Empat Sahabat itu adalah faza dan tiga orang sahabat faza, mereka adalah A, B dan C.  faza sendiri adalah si D.  Persahabatan mereka sudahlah lama, namun terus terang perlakuan faza terhadap mereka tidaklah sama.  Pada sahabat A, faza hanya sesekali saja mengunjunginya, bertanya tentang kabarnya.  Kerap kali kedatangan faza padanya bukan karena panggilan hati, tapi karena hanya kewajiban sebagai seorang sahabat saja.

Pada sahabat B, faza cukup dekat.  Cukup banyak waktu faza habiskan bersamanya.  Namun pada sahabat C lah faza paling dekat.  separuh hidup faza, bahkan lebih, faza habiskan bersamanya.  faza berusaha selalu seiring dengannya, menyenangkan hatinya.  Pendek kata dia adalah sahabat terbaiknya faza.

Hingga suatu saat, faza tersandung masalah.  Masalah yang sangat besar, hingga faza sendiri tidak sanggup menyelesaikannya.  faza harus menghadapi sidang pengadilan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dengan penuh ketakutan, faza datangi sahabat C.  faza ceritakan segala kesulitannya serta ancaman  dari pengadilan itu.

“Ayolah…, bantu aku C, kamu kan sahabat terbaikku,” rengek faza membujuk.

“Maafkan aku, sahabat. Aku tidak bisa,” tukas sahabat C.

“Aku tahu kamu telah menganggapku sebagai sahabat terbaikmu, tapi aku tidak berani.  Jangankan menemanimu dan membantumu selama persidangan, mengantarmu sampai halaman pengadilan saja aku tidak berani.”

faza kecewa.  faza tidak pernah menyangka, sahabat terbaiknya sendiri tidak bersedia membantu.  Dengan lankah gontai, faza datangi sahabat  yang kedua.  Biarpun tidak sedekat dengan C, namun si B ini merupakan sahabat baik faza pula.  Penuh harap, faza datangi dia.  faza ceritakan tentang segala masalah dan pengadilan yang harus faza hadapi.

Dan sahabat B pun menjawab, “Baik, aku akan membantumu.  Tapi aku hanya bisa mengantarmu sampai halaman pengadilan saja, tidak lebih.”

Kembali kekecewaan melanda fazaSahabat-sahabat yang selama ini faza anggap sahabat terbaik ternyata tak juga bisa menbantu.

Dalam keputus asaan faza teringat, bahwa faza masih memiliki satu sahabat lagi.  Dia adalah sahabat A.  Biarpun tidak terlalu dekat, namun faza memberanikan diri untuk meminta bantuannya.  Tanpa faza duga, jawaban yang selama ini faza harapkan, faza peroleh dari dia.

“Baiklah, aku akan antar kamu sampai di gedung pengadilan dan akan ku bantu menghadapi pengadilan itu,” jawab sahabat A dengan tegas melegakan hati.

Beratus kali faza ucapkan terima kasih padanya dan beribu kali faza mohonkan maaf telah menomor sekiankan dirinya.

That’s all, sahabat sahabat ku tersayang….

Tapi para sahabat tau nggak, siapa sahabat-sahabat faza itu?  faza perkenalkan satu persatu.  faza mulai dari yang terbaik ya…

Sahabat “C” adalah pekerjaan, harta dan nafsu duniawinya fazaSahabat “B” adalah keluarga nya faza, istri dan anak-anak nya.  Dan Sahabat “A” adalah agama faza.

Dan tahukah kamu, pengadilan macam apa yang harus faza hadapi?  Pengadilan itu adalah kematian…!!!