BOOM…!

Aih, bom meledak lagi di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Kemaren bom itu mengguncang Kuningan, menyisakan kepingan-kepingan bangunan, merenggut beberapa lembar nyawa dan melantakkan tangis keluarga para korban.

Ledakan bom itu sungguh membuat ngenes hati ini.  Keresahan kembali melanda negeri ini.  Para pengamat berspekulasi, para pejabat melakukan konferensi pers, polisi en TNI sibuk mencari-cari.

faza termenung mencoba menyelami apa yang terjadi.  Berbekal kepul asap dari kopi item dihadapan, faza coba menerawang.  Bak dukun sakti, faza mencoba berganti posisi, seandainya faza si pelaku peledakan bom itu, apa penyebabnya? apa motivasinya? apa pula tujuannya?

Entah, udah kali keberapa faza sruput kopi itu, enak! tapi tak senikmat biasanya. Aihh…, sampe hampir kering itu gelas, hasil penerawanganku masih tetep nol besar! Tidak ada sisi akal sehatku yang dapat menerima peledakan bom itu. Malah kemungkinan-kemungkinan lain justru membuat aku makin nelangsa dan mngurut dada.

Pasti TERORIS…! Tapiii… faza jadi ketakutan sendiri. Karena orang makin latah, orang makin nggak genah menyimpulkan suatu perkara.  Bukankah teroris abad ini, identik dengan para militan muslim? Sodara-sodaraku sendiri?

Hhh…, mungkin aja ada kaitannya dengan suasana politik saat ini. Tapi tetep aja ‘mereka’ yang akan jadi tersangka utama. faza masih bisa mengerti, akan ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi, menuding mereka sebagai pelaku peledakan bom itu.  Hingga perjuangan ‘mereka’ terkebiri, kesucian mereka ternodai, nama ‘mereka’ cemar di tengah kaumnya sendiri.

Hhh…, Padahal bisa jadi, pelaku peledakan bom itu adalah sekumpulan teroris yang nggak punya nyali tuk mengibarkan bendera sendiri? Lalu mereka mengibarkan bendera Islam hanya tuk lempar batu sembunyikan tangan.  faza bisa mengerti, tapi apakah dunia juga bisa memahami?

Duduk faza makin ke sudut, tanganku memeluk lutut yang ku tekuk.  Kembali faza merenung sambil ngudut…

Sebenernya apa yang kita cari di dunia ini?

faza coba nanya pada otakku yg ga seberapa gede ini Hhhmm…, faza manggut-manggut mendengar jawabannya. Betul…betul…, emang itu yang harus faza gapai, faza pasti bisa hidup bahagia di dunia ini

Namun, pada detik terakhir pengambilan keputusan, aiihh…, faza baru teringat ama bagian diriku yang lain. Bagian terpenting, yang juga berhak memberikan hak suaranya untuk segala keputusan yg akan aku ambil.

Tok tok tok…

“Nur… Nurani…, apa pendapatmu, Nur… ?”, tanyaku berulang kali.

Cukup lama nurani ini diam dan faza tetep sabar menanti jawaban.  Akhirnya ku dengar juga bisikannya.  Jidatku mengkerut.

“Lho, kok, beda jauh,” kataku pada diri sendiri.

Akhirnya pikiran ku dan nurani ku ribut, beradu argumen untuk membenarkan pendapatnya masing-masing. Nggak puas dengan adu argumen, mereka mulai cakar-cakaran, sikut menyikut, upper cut en jab silih berganti dilancarkan, tendangan-tendangan maut berseliweran.

“STOOOPPP….!,” teriak kuencengku langsung menghentikan arogansi mereka.

“Jangan ribut, kita musyawarah,” perintahku.

“Apa nggak tau kalo aku jadi tambah kliyengan?”, omelku pada mereka.

Pikiran ku membantah, nurani ku juga ga mau kalah.

“My Pik, kamu berani membantahku?,” ancamku nggilani.  Pikiran ku langsung tertunduk.

“Kamu juga diam, My Nur!,” hardikku. Nurani ku pun patuh.

Akhirnya, musyawarah untuk mufakatpun berlangsung.  Setelah melewati perdebatan panjang, titik terang kembali bersinar. Kata mufakat tercapai sudah.

“Oke, setuju,” ucapku sambil menghela nafas. “Aku turuti keinginanmu, My pik, tapi tetep dalam koridor yang ditetapkan oleh My Nur, tidak boleh melenceng dari itu.  Aku akan berusaha capai tujuanmu, My Pik, tapi itu hanya sebagai jembatan en batu loncatan untuk tujuan akhir yang telah dicanangkan oleh My Nur. Okey…?”

Pikiran en nurani ku mengangguk-ngangguk setuju. Alhamdulillah…. akhirnya aku menemukan juga tujuan hidupku.

Hmm…, seandainya sang pelaku peledakan bom itu melakukan hal yang sama denganku. Mungkinkah ledakan bom itu  akan tetap terjadi? Mungkinkah hotel JW Marriot dan Ritz Carlton terguncang kembali? Mungkinkah Kuningan berdarah lagi?

Hhh…, kopiku abiss, udutku juga abiss, ide untuk postingan kali ini pun udah abiss.  Sekarang tinggal bobo manis, mimpiin istriku sambil mringis-mringis.