<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Perigitua.com &#187; Nakal</title>
	<atom:link href="http://perigitua.com/category/nakal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://perigitua.com</link>
	<description>Berbagi Hidup Dengan Hati</description>
	<lastBuildDate>Sun, 16 May 2010 03:52:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>SMS Rayuan Gombal ala perigitua</title>
		<link>http://perigitua.com/sms-rayuan-gombal-ala-perigitua/</link>
		<comments>http://perigitua.com/sms-rayuan-gombal-ala-perigitua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 03:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perigitua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nakal]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[rayuan gombal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perigitua.com/?p=1465</guid>
		<description><![CDATA[Hadir lagi sahabat, Pernah merasa spechless di hadapan pacar? Mulut bisu, lidahpun kelu. Wkwkwkwk&#8230;, Kepala mules bawaannya pengen ke belakang melulu? Wkwkwkwk&#8230; parah&#8230;!!! Kalo dulu orang bilang, &#8216;say with flowers&#8217;. Lha kalo sekarang, kita mengungkapkan perasaan kita dengan bunga, aku jamin, pasangan kita tercinta akan menawar, &#8216;bisa di tuker dengan bunga bank aja nggak?&#8217; Walah&#8230;!!! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Hadir lagi sahabat,</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah merasa spechless di hadapan pacar? Mulut bisu, lidahpun kelu.  Wkwkwkwk&#8230;, Kepala mules bawaannya pengen ke belakang melulu? Wkwkwkwk&#8230; parah&#8230;!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo dulu orang bilang, &#8216;say with flowers&#8217;.  Lha kalo sekarang, kita mengungkapkan perasaan kita dengan bunga, aku jamin, pasangan kita tercinta akan menawar, &#8216;bisa di tuker dengan bunga bank aja nggak?&#8217; Walah&#8230;!!!<span id="more-1465"></span></p>
<p style="text-align: justify;">So, lebih aman buat kita, kalo tidak punya keberanian untuk mengungkapkan rasa yang berjuta warna itu secara langsung, maka kita sampaikan lewat sms saja.  Lebih canggih, cepat dan efisien.  Dan yang terpenting, tak perlu membuat muka kita menjadi merah dan salah tingkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Okey guest&#8230;, here they are&#8230; SMS Rayuan Gombal ala perigitua&#8230;</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #0000ff;">Sayang&#8230;, di sini kayaknya ada jaringan wifi-nya deh, soale hatiku langsung connected dengan hatimu yach&#8230;.</span></li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #ff00ff;">Beib&#8230;, bisa bantuin aku ngegambar ga? Bantuin dong&#8230; gambarin peta hatiku agar sampai di hatimu.</span></li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #0000ff;">Besok besok, kalo </span><span style="color: #0000ff;">nanti</span><span style="color: #0000ff;"> kita ketemuan, ingetin aku pake kacamata hitam yach&#8230; Soale pesonamu menyilaukan mataku.</span></li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #ff00ff;">HELP&#8230; help me&#8230;.!!! Berikan aku peta&#8230; Aku tersesat di hatimu.</span></li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #0000ff;">Andai kamu hidup 100 tahun lamanya&#8230; Aku ingin hidup 100 tahun lebih satu detik&#8230; Karena aku nggak mau hidup sedetikpun tanpa adanya dirimu.</span></li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #ff00ff;">Sayang&#8230; boleh nitip sesuatu nggak? Aku titip hatiku yach&#8230;!!!</span></li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #0000ff;">Mungkin hidup dapat memberiku 101 alasan untuk menangis. Tapi kamu datang membawa 1001 alasan  untuk membuatku tersenyum&#8230;</span></li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #ff00ff;">Say&#8230; Ini ku siapkan makan malam teristimewa: segelas cinta, sepiring rindu, sepotong kasih sayang, secuil cemburu dan sebuah do&#8217;a. Selamat menikmati yach&#8230;</span></li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #0000ff;">Orang bilang bulan itu indah&#8230; dan planet venus itu cantik&#8230; tapi menurutku mereka salah.  Aku bilang bumi itu indah dan cantik&#8230; karena ada kamu di situ.</span></li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #ff00ff;">Kamu tahu beib,&#8230; malam-malam gini aku nangkring di atas gendeng, berselimutkan angin dingin menusuk tulang.  Hanya untuk mencari sinyal lalu mengirim SMS &#8216;Aku Sayang Kamu&#8230;&#8217;</span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu dulu yach, selamat ngegombal via  sms ya&#8230;</p>
<p>cu&#8230;</p>
<p style="text-align: right;">perigitua, februari &#8217;10</p>
<p style="text-align: right;">faza</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perigitua.com/sms-rayuan-gombal-ala-perigitua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Afra Sakit, Ayahnya Kok Malah Garing</title>
		<link>http://perigitua.com/afra-sakit-ayahnya-kok-malah-garing/</link>
		<comments>http://perigitua.com/afra-sakit-ayahnya-kok-malah-garing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 17:20:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perigitua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nakal]]></category>
		<category><![CDATA[afra]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perigitua.com/?p=1167</guid>
		<description><![CDATA[Afra sakit! Bocah yang biasanya periang itu jadi murung, lebih banyak bungkam daripada berkicau.  Rumah sungguh sepi tenpa celotehnya.
Inno, sang bunda bermuram durja. Engki, sang kakek sibuk nyari dokter. Enin, sang nenek sibuk ngompress. Budhe juga tengah sibuk masak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Afra sakit! Bocah yang biasanya periang itu jadi murung, lebih banyak bungkam daripada berkicau.  Rumah sungguh sepi tenpa celotehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Inno, sang bunda bermuram durja. Engki, sang kakek sibuk nyari dokter. Enin, sang nenek sibuk ngompress. Budhe juga tengah sibuk masak.  Nah lho, kok beda sendiri? Wkwkwkwk….!<span id="more-1167"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sedang aku? Garing banget tau…! Aku cuma nelpon dan menanyakan kabar bidadari kecilku itu dari jauh.  Untuk cabut  pulang pergi ditentang keras oleh bundanya Afra. Ngajuin cuti ga mungkin, karena saat ini pekerjaan juga lagi numpuk-numpuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayolah bidadari cilikku, cepat sembuh nak.  Ayah kangen mendengar celotehmu si setiap senjaku. Ayah rindu mendengar tawa renyahmu. Ayah ingin mendengar cerita khayalmu tentang ke dufan bareng ayah. Naik gondola, foto di istana boneka.  Padahal waktu itukan ayah ga ikut tau&#8230;!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Ayolah My Little Angel, cepat sembuh ya&#8230;  Ayah akan dengarkan <a href="http://perigitua.com/aku-bukanlah-superman-the-lucky-laki-lagunya-afra/" target="_self">Aku Bukan Superman</a> miliknya <a href="http://perigitua.com/aku-bukanlah-superman-the-lucky-laki-lagunya-afra/" target="_self">The Lucky laki</a>, lagu kesayanganmu. Ayah akan tepuk tangan mengikuti senandung <a href="http://perigitua.com/baik-baik-sayang-wali-band-ini-lagunya-bunda/" target="_self">Baik Baik sayang</a> nya <a href="http://perigitua.com/baik-baik-sayang-wali-band-ini-lagunya-bunda/" target="_self">Wali Band</a> yang kata kamu itu lagunya bunda. Ayah juga akan turut menyenandungkan lagu <a href="http://perigitua.com/keterlaluan-the-potters-lagunya-ayah/" target="_self">Keterlaluan</a> punyanya <a href="http://perigitua.com/keterlaluan-the-potters-lagunya-ayah/" target="_self">The Potters</a>.  Lagu yang aku protes keras pada bundamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Cepatnya sembuh ya nak. We Love U&#8230;</p>
<p style="text-align: right;">perigitua, Desember &#8217;09</p>
<p style="text-align: right;">faza</p>
<p style="text-align: left;">Silahkan baca juga lirik lagu-lagu kesukaannya Afra:</p>
<blockquote>
<ul>
<li><a href="http://perigitua.com/aku-bukanlah-superman-the-lucky-laki-lagunya-afra/" target="_self">Aku Bukan Superman &#8211; The Lucky Laki</a></li>
<li><a href="http://perigitua.com/baik-baik-sayang-wali-band-ini-lagunya-bunda/" target="_self">Baik Baik Sayang &#8211; Wali Band</a></li>
<li><a href="http://perigitua.com/keterlaluan-the-potters-lagunya-ayah/" target="_self">Keterlaluan &#8211; The Potters</a></li>
<li><a href="http://perigitua.com/papa-rock-n-roll-the-dance-company/">Papa Rock N Roll &#8211; The Dance Company</a></li>
</ul>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perigitua.com/afra-sakit-ayahnya-kok-malah-garing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasil Sayembara Faza</title>
		<link>http://perigitua.com/hasil-sayembara-faza/</link>
		<comments>http://perigitua.com/hasil-sayembara-faza/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 17:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perigitua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Nakal]]></category>
		<category><![CDATA[Faza]]></category>
		<category><![CDATA[perigitua]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perigitua.com/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[Matahari baru saja beranjak menapaki garis edarnya, saat lurah Google mengumpulkan seluruh warga kampung maya. Di halaman istana kelurahan, beliau berdiri dengan gagah lengkap dengan pakaian kebesarannya. Di sampingnya, putri Alexa berdiri anggun. Dan beberapa langkah di belakangnya, tiga pemuda tampan berdiri tegak dengan kapak siap di pundak. Tiga pemuda gagah itu tidak lain dan tidak bukan adalah si faza, si perigi dan si tua.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Matahari baru saja beranjak menapaki garis edarnya, saat lurah Google mengumpulkan seluruh warga kampung maya.  Di halaman istana kelurahan, beliau berdiri dengan gagah lengkap dengan pakaian kebesarannya.  Di sampingnya, putri Alexa berdiri anggun.  Dan beberapa langkah di belakangnya, tiga pemuda tampan berdiri tegak dengan kapak siap di pundak.  Tiga pemuda gagah itu tidak lain dan tidak bukan adalah si faza, si perigi dan si tua.<span id="more-812"></span></p>
<p>“Wahai para warga kampung maya yang aku cintai dan aku sayangi…,” lurah Google mulai membuka pidato kekampungannya (?). “Apa kabar Duniaaa…???”</p>
<p>“Tetep Asyiiiikkkk….!” jawab seluruh warga kompak dan penuh antusias.</p>
<p>Perlu diketahui, lurah Google memang kerap menanyakan kabar dunia secara langsung. Kabar dunia yang dimaksud tentunya kabar seluruh warga kampung Maya.</p>
<p>Beliau menyadari betul, bila hanya mengandalkan laporan dari para pejabat teras kelurahan, kemungkinan ada kesalahan informasi, validitas laporan yang rendah. Apalagi bisikan-bisikan ALS (Asal Lurah Senang) yang sering mampir dikedua telinganya akan berakibat pada kesalahan menilai kehidupan para warganya.</p>
<p>“Para warga kampung Maya yang saya hormati.  Hari ini saya memohon pada saudara sekalian untuk menjadi saksi, siapa yang akan menjadi suami putriku melalui sebuah sayembara,” ucap lurah Google dengan lantang sambil tangan kirinya mampir di pundak putrinya yang cantik jelita itu.</p>
<p>Kontan saja putri Alexa menundukkan kepala menyembunyikan semburat merah di pipi putihnya.</p>
<p>Para warga ribut, kasak-kusuk mengomentari woro-woro istimewa itu.</p>
<p>“Tenang, Tenang Wargaku… Untuk pesertanya telah saya dan putri saya tentukan.  Dan inilah pemuda-pemuda yang terpilih itu,” jelas lurah Google seraya mempersilahkan tiga pemuda itu maju.</p>
<p>Si faza, si perigi dan si tua maju, lalu membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.</p>
<p>“Untuk kalian bertiga, calon mantuku, begini aturan mainnya.  Selama tiga hari kalian akan menebang kayu.  Kalian boleh beristirahat begitu matahari terbenam dan baru boleh menebang lagi sesaat setelah matahari terbit. Pada hari ke empat, tim arsitek kelurahan yang akan menilai hasil kerja kalian, karena kayu hasil tebangan itu yang akan menjadi rumah putriku bersama salah satu dari kalian. Bagaimana? Apakah bisa dimengerti?”</p>
<p>Ketiga pemuda itu mengangguk.</p>
<p>“Oke… Sekarang mulailah…,” perintah lurah Google diiringi bunyi gong ditabuh.</p>
<p>Tiga sahabat itu bergegas menuju hutan yang telah ditentukan.  Sesampainya di TeKaPe, mereka tidak langsung menebang, tetapi malah duduk berhadapan.</p>
<p>“Bro…, hari ini terpaksa kita bersaing untuk mendapatkan putri Alexa,” si faza memulai pembicaraan.</p>
<p>“Betul..!,” sahut si perigi.</p>
<p>“Kita akan bersaing tetapi bersaing sehat,” lanjutnya yang langsung disetujui oleh yang lainnya.</p>
<p>“Apapun hasilnya nanti, kita tetap sahabat. Setuju…?” ujar si tua mengingatkan.</p>
<p>“Pastiiii…,” sahut si faza cepat.</p>
<p>“Yoi…,” tukas si perigi sedikit lebih lambat.</p>
<p>Mereka bertiga saling berjabat tangan, lalu saling menumpukkan tangan, kemudian berteriak nyaring sembari menghempaskan tangan yang bertumpuk itu ke bawah.</p>
<p>“Sekali sahabat… Tetap Sahabat…!”</p>
<p>“Hayoo, mulai..” ajak si tua. Si faza dan si perigi justru mencari tempat yang enak buat duduk.</p>
<p>“Kau dululah yang mulai bro…,” ujar si faza melihat raut keheranan di wajah si tua.</p>
<p>“Ya.. kau duluan aja bro…, kapak milikmu yang paling tumpul diantara kita bertiga,” sahut si perigi.</p>
<p>Maka mulailah si tua menebang kayu, karena menyadari kelemahannya, maka si tua hanya menebang kayu yang benar-benar berkualitas saja.Tak berapa lama, si perigi juga mulai menebang kayu. Baru kemudian menyusul si faza.</p>
<p>Ketika matahari beranjak terbenam,mereka menghentikan kegiatan menebang kayu.  Kemudian mereka memperhatikan hasil usaha yang tengah dikumpulkan dan dipisah-pisah oleh aparat kelurahan.  Seimbang!</p>
<p>Yang membedakan adalah peluh si tua sampai menganak sungai, si perigi hanya sedikit membasahi baju dan si faza hanya di seputaran jidat saja.  Dari sini dapat dilihat betapa jauh perbedaan keampuhan kapak masing-masing.</p>
<p>Kemudian ketiga sahabat itu pulang.</p>
<p>Di rumah, si faza bercerita dengan semangat tentang hasil usahanya hari ini kemudian beristirahat. Si perigi juga tidak beda, bercerita tentang hasil yang diperolehnya, kemudian mengasah kapaknya sebentar lalu tidur.  Berbeda dengan si tua, dia bercerita sambil mengasah kapaknya dan dia terus mengasah kapak itu sepanjang malam dan hanya menyisakan sedikit waktu untuk istirahat.</p>
<p>Hari kedua sayembara di mulai. Hasil yang didapat masih sama dengan kemarin, seimbang!  Yang membedakan adalah peluh yang dikeluarkan ketiga pemuda itu semakin mendekati sama.</p>
<p>Hari penentuan tiba.  Di hari ini mereka bertiga benar-benar berlomba menebang kayu sekuat tenaga.</p>
<p>Di paruh hari mereka beristirahat sejenak sembari mengamati hasil usaha mereka. Si faza dan si perigi mengernyitkan dahi melihat hasil si tua sedikit lebih banyak disbanding dengan hasil yang mereka berdua peroleh.</p>
<p>“Hhhmm…, kapakmu makin tajam aja bro…?” ujar faza lirih.</p>
<p>“Alhamdulillah…, aku mengasahnya sepanjang malam,” jelas si tua sambil tersenyum.</p>
<p>Di paruh kedua si faza dan si perigi menunjukkan keampuhan kapak masing-masing. Setiap pohon yang di dekat mereka pasti kena hajar.  Mereka tidak pilih-pilih lagi mengingat hasil tebangannya yang masih di bawah perolehan si tua.</p>
<p>Matahari terbenam menyudahi sayembara itu.  Dengan peluh yang sama-sama membanjir, tiga sahabat itu bersalaman menandakan berakhirnya sebuah persaingan.</p>
<p>Si faza dengan bangga melihat hasil usahanya yang melampaui kedua sahabat nya itu.  Si perigi menjadi nomor dua dan yang di urutan buncit adalah si tua.</p>
<p>Si perigi dan si tua sekali lagi menyalami si faza sembari mengucapkan selamat karena berarti si faza lah sang pemenang itu.<!--more--></p>
<p>Keesokan harinya, semua berkumpul di halaman kelurahan sambil mengomentari hasil dari ketiga peserta itu.   Lurah Google melihat tumpukan kayu milik si faza, si perigi dan si tua.  Dan dia langsung tahu siapa yang siapa orangnya yang memenangkan sayembara.  Namun, dia tetap mengijinkan tim arsitek kelurahan untuk memeriksa hasil usaha para peserta.</p>
<p>Setelah selesai memeriksa, sang ketua tim melaporkan hasil penilaiannya kepada lurah Google disaksikan seluruh warga kampung Maya.</p>
<p>“Hasil penilaian kami, kayu terbanyak dihasilkan oleh si faza, lalu diikuti oleh si perigi dan yang terakhir si tua,”  Tepuk gemuruh mengiringi laporan itu.</p>
<p>Mendengar laporan itu, lurah Google bangkit dari singgasananya.  “Seperti yang saudara-saudara dengar dan saksikan bersama, maka saya umumkan bahwa pemenang dari lomba ini adalah….” keputusan lurah Google menggantung tiba-tiba.</p>
<p>“Eee…, sebantar pak lurah,” potong sang ketua tim. “Mohon maaf sebesarnya, tetapi pemenang sayembara tidak otomatis seperti itu.”</p>
<p>Lurah Google melongo, seluruh wargapun terhenyak heran.</p>
<p>“Kok bisa…?” tanya lurah Google tak mengerti.</p>
<p>Sang ketua tim arsitek maju dengan tenang, “Mohon bapak sekretaris membacakan aturan main sayembara ini”</p>
<p>Sang sekretaris maju sembari membuka contekan, lalu membacanya dengan lantang.</p>
<p>Lurah Google dan seluruh warga mencermati dengan hikmat.</p>
<p>“Nah, dalam aturan main itu, pemenang bukan ditentukan dari kayu terbanyak,” jelas sang ketua tim. “tetapi dari cukup atau tidaknya kayu untuk membangun sebuah rumah. Bukan begitu pak lurah..?”</p>
<p>“Betul… betul… Yang penting cukup untuk membangun rumah buat putriku,”</p>
<p>“Kenyataannya, ketiga peserta itu dapat menebang kayu lebih dari cukup untuk membangun sebuah rumah,”jelas sang ketua tim.</p>
<p>“Hhmm…, lalu siapakah yang jadi pemenangnya?” gumam lurah Google pada diri sendiri.</p>
<p>“Menurut hemat kami, pemenangnya bisa ditentukan dari kualitas kayu yang dihasilkan.”</p>
<p>“Betul…, engkau betul sekali.  Lalu siapakah yang memiliki kayu dengan kualitas terbaik?”</p>
<p>“Kami sudah sepakat, kayu terbaik dihasilkan oleh si tua,” jawab sang ketua tim arsitek kelurahan.</p>
<p>“Baiklah. Para wargaku, kalian sudah mendengar sendiri tim arsitek telah mempertimbangkan segala keputusannya.  Maka hari ini aku putuskan bahwa calon suami dari putriku adalah si tua.”</p>
<p>Gemuruh tepuk tangan mengiringi keputusan itu.</p>
<p>Si tua bingung, si faza dan si perigi dengan sumringah menyalami si tua.</p>
<p>“Aku… aku… aku… yang menang..?” si tua tergagap tidak percaya.</p>
<p>“Iya…, kamu yang menang bro… selamat… selamat..”</p>
<p>“Aku menang…???!!”</p>
<p>Dan brug! Si tua rubuh tak sadarkan diri ketimpa durian runtuh dari langit. Kontan saja suasana jadi kacau balau.</p>
<p>Lurah Google segera memanggil tim medis kelurahan, si faza dan si perigi sibuk menggotong tubuh si tua masuk ke dalam istana kelurahan. Dan si Alexa menangis sambil membelai wajah tampan si tua, calon suaminya tersayang.</p>
<p><span style="color: #0000ff;">Demikianlah para sahabat ku tersayang, para narablog tercinta. </span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"> Ada banyak benang merah dari cerita di atas, mungkin tidak dapat aku rangkum semua namun ada beberapa hal yang akan aku Bantu menariknya. </span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><span style="color: #ff0000;">Benang Merah:</span> </span></p>
<ul>
<li><span style="color: #008000;">Sebagai penguasa, di wakili lurah Google, dia berusaha mencari tahu sendiri kondisi para warganya dan tidak begitu saja percaya pada laporan yang diberikan para ajudannya. </span></li>
<li><span style="color: #008000;">Sebagai atasan, di wakili lurah Google, dia tidak memutuskan sesuatu sendiri, tetapi bersedia mendengarkan masukan dari bawahan lalu mempertimbangkan kembali masak-masak. </span></li>
<li><span style="color: #008000;">Sebagai bawahan, di wakili oleh ketua tim arsitek, dia berani mengingatkan kesalahan atasan dengan data-data yang ada. </span></li>
<li><span style="color: #008000;">Sebagai orang tua, diwakili oleh lurah Google, dia memberi hak pada putrinya untuk ikut memilih calon pendamping hidupnya. </span></li>
<li><span style="color: #008000;">Sebagai nilai persahabatan, di wakili oleh si faza, si perigi dan si tua, yang tetap menjaga hubungan persahabatan yang tulus. </span></li>
<li><span style="color: #008000;">Sebagai nilai kesombongan dan percaya diri berlebih, diwakili oleh si faza dan si perigi, yang membiarkan si tua memulai terlebih dahulu dan mereka berdua tidak mengasah kapaknya dengan baik. </span></li>
<li><span style="color: #008000;">Sebagai nilai perjuangan pantang menyerah, diwakili oleh si tua, yang mengasah kapak tumpulnya sepanjang malam. </span></li>
<li><span style="color: #008000;">Sebagai nilai mandiri dan tidak ingin merepotkan orang lain, diwakili oleh si tua, yang menolak tawaran sang emak untuk membelikan kapak baru dengan cara berhutang. </span></li>
<li><span style="color: #008000;">Sebagai nilai ketelitian dan pertimbangan matang, diwakili oleh si tua, yang hanya memilih pohon dengan kayu berkualitas yang dia tebang. </span></li>
</ul>
<p><span style="color: #0000ff;">Huaaah…, demikianlah para sahabat semua, masih ada beberapa hikmah di cerita itu.  Semoga engkau semua tidak terlalu lelah untuk mencarinya. </span><br />
<span style="color: #0000ff;">Sekian dulu yach, faza mau ngopi sambil ngarokok dulu oye… Terima kasih… </span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">cu…..!</span></p>
<p>Silahkan baca juga artikel terkait:</p>
<blockquote>
<ul>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" href="../perigitua-com-dalam-renungan/" target="_blank">Perigitua dalam Renungan</a></li>
<li><a href="http://perigitua.com/faza-dalam-sayembara/" target="_blank">Faza dalam Sayembara</a></li>
<li><a href="http://perigitua.com/faza-bicara-google/" target="_blank">Faza Bicara Google</a></li>
</ul>
</blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perigitua.com/hasil-sayembara-faza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faza dalam Sayembara</title>
		<link>http://perigitua.com/faza-dalam-sayembara/</link>
		<comments>http://perigitua.com/faza-dalam-sayembara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 17:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perigitua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Nakal]]></category>
		<category><![CDATA[perigitua]]></category>
		<category><![CDATA[sayembara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perigitua.com/?p=806</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat ku sayang, kali ini faza akan menyambung cerita yang pernah terputus di tengah jalan, karena tangan ini mencet-mencet keyboard begitu saja sampai akhirnya jalan cerita mengalir begitu saja en yang jelas, makin tidak jelas juntrungannya. Sebuah cerita tentang tiga orang sahabat yang bernama si faza, si perigi dan si tua. Masih ingatkah? Semoga saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;">Sahabat ku sayang, kali ini faza akan menyambung cerita yang pernah terputus di tengah jalan, karena tangan ini mencet-mencet keyboard begitu saja sampai akhirnya jalan cerita mengalir begitu saja en yang jelas, makin tidak jelas juntrungannya. </span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Sebuah cerita tentang tiga orang sahabat yang bernama si faza, si perigi dan si tua. Masih ingatkah? Semoga saja para sahabat masih ingat, tapi kalaupun sudah lupa, silahkan baca artikel terkait di bawah postingan ini ya….<span id="more-806"></span></span></p>
<p>Dan hari yang ditentukan itu pun tiba.  Tiga sahabat itu menghadap lurah Google dengan diiringi senyum malu-malu non Alexa, putri semata wayang sang lurah itu.</p>
<p>Di atas singgasana kelurahan, lurah Google menyampaikan sabdanya.  Si faza melongo, si perigi mengucek-ucek telinganya, dan si tua mencubit tangannya sendiri mendengar berita yang disampaikan sang lurah.</p>
<p>Dengan bijak, lurah Google membiarkan kekagetan tiga pemuda itu mereda, baru kemudian dia membuka sesi tanya jawab.  “Biar kelihatan lebih demokratis dan terjadi komunikasi dua arah,” begitu pendahuluan beliau sembari membuka sesi tanya jawab itu.</p>
<p>Diskusi berjalan dengan seru.  Dan memang si faza, si perigi dan si tua berusaha memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.  Tanpa terasa, waktu yang dialokasikan lewat sudah, perpanjangan waktu menjadi satu-satunya pilihan.  Ternyata perpanjangan waktu saja tidak cukup, time out dengan secangkir kopi dan cemilan renyah telah menyelingi sebanyak tiga kali.</p>
<p>Setelah semuanya dirasa cukup jelas, si faza, si perigi, dan si tua undur diri.  Tiga sahabat itu bergegas pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan segala sesuatunya demi keperluan sayembara special itu.</p>
<p><strong>Di rumah si faza</strong></p>
<p>“Bagaimana Yah, boleh aku ikut sayembara ini?” Tanya si faza setelah menceritakan hal ihwal tentang sayembara yang dibuat oleh lurah Google pada seluruh keluarga.</p>
<p>Sang ayah nampak berpikir sambil mengelus-elus tiga lembar janggut yang panjang menjuntai.</p>
<p>“Hhhmmm…,” gumam sang ayah menjadi pendahuluan.</p>
<p>“Ayah pikir sayembara ini adalah kehormatan buat keluarga kita. Apalagi hanya kalian bertiga yang boleh mengikutinya.  Bagaimana menurutmu bun…?” ayah meminta pendapat bunda.</p>
<p>“Iya yah, bunda juga merasa seperti itu.  Mempunya mantu seperti non Alexa…, mimpipun ibu nggak berani yah…,” tutur bunda menyampaikan pendapatnya.</p>
<p>Si faza tertunduk dengan muka kemerahan. Di otaknya sudah terbayang waktu duduk bersanding di pelaminan bersama Alexa.  Setelah itu, setelah semua ritual pernikahan selesai, dia akan menggendong Alexa masuk kamar, lalu… lalu… CUT…! Aih.., maaf ya sahabat semua, faza jadi ngelantur lagi kemana-kemana. Hehehe…, Piss…!</p>
<p>“Yayaya…, menjadi besan lurah Google…??? Sungguh luaarr biaasaa bila itu bisa jadi kenyataan,” gumam sang ayah seperti pada diri sendiri.</p>
<p>Si faza masih terdiam, berusaha menyembunyikan kegembiraannya melihat dukungan dari ayah bundanya.</p>
<p>“Ok, Le.., ayah setuju seratus persen.  Besok ayah akan jual sawah kita untuk membelikanmu kapak nomor satu. Kapak terbaik yang pernah diciptakan di dunia ini”</p>
<p>Si faza terlonjak mendengar janji sang ayah.</p>
<p>“Bener yah..?” tanyanya meyakinkan.</p>
<p>“Bener, suer tak kewer-kewer. Mudah-mudahan dengan kapak itu, engkau akan keluar jadi pemenang.,”</p>
<p>“Amiiieeenn…!” kompakan mereka berseru menjadikan ucapan sang ayah menjadi sebuah doa.</p>
<p><strong>Di rumah si perigi</strong></p>
<p>Sesampainya di rumah, si perigi mengumpulkan seluruh anggota keluarganya.  Ada bapak, ibu, dan dua adiknya yang masih kecil-kecil.  Lalu dia menceritakan tentang sayembara yang ditawarkan oleh lurah Google.</p>
<p>“Bagaimana Yah, bu, apakah aku diijinkan untuk mengikuti sayembara itu?”</p>
<p>“Sembarangan kamu,”samber bapak cepat, “jelas kamu tidak hanya diberi ijin tetapi kamu juga akan mendapatkan support maxi dari kami, iyakan bu?”</p>
<p>Sang ibu mengangguk-angguk setuju.</p>
<p>Si perigi sumringah mendapati keluarganya yang begitu antusias menyambut sayembara ini.</p>
<p>“Lalu apa yang harus aku siapkan pak?”</p>
<p>“Tenang saja, Besok ayah akan jual dua sapi kita, untuk membelikanmu kapak yang bagus.  Mungkin bukan kapak nomor satu, tapi minimal yang nomor 2 bisa kita dapatkan”</p>
<p>Semuanya manggut-manggut tanda setuju.</p>
<p>“Semoga engkau dapat memenangkan sayembara ini anakku,” doa sang ibu yang langsung diamini oleh seluruh anggota keluarga.</p>
<p><strong>Di rumah si tua</strong></p>
<p>Si tua duduk di bangku reot berhadapan dengan sang emak.  Tidak ada yang anggota keluarga yang lain, karena memang hidup berdua setelah sang bapak telah berpulang beberapa tahun yang lalu.</p>
<p>Si tua menceritakan segalanya dengan lugas dan terbuka, sedang sang emak mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali sang emak melengak kaget dan heran, anak satu-satunya itu mendapat kepercayaan untuk mengikuti sayembara yang fenomenal ini.</p>
<p>“Kamu sungguh beruntung nak…” komen sang emak setelah si tua menyelesaikan ceritanya.</p>
<p>“Bagaimana menurut emak?”</p>
<p>“Kamu harus ikut Nak, Jangan sia-sia kan kepercayaan yang telah ndoro Google berikan,” ujar emak menasehati.</p>
<p>“Tapi mak…”</p>
<p>“Tapi apaan? Nggak ada tapi-tapian.  Kamu kudu ikut anakku,” potong sang emak sambil bangkit dari duduknya.</p>
<p>“Mau kemana mak?” tanya si tua melihat emaknya beranjak menuju pintu.</p>
<p>“Tunggu sebentar, emak mau ke rumah tetangga dulu,” jawab emak.</p>
<p>“Untuk apa mak?”</p>
<p>“Pinjam uang, untuk membelikanmu kapak yang baru.”</p>
<p>“Nggak usah mak,” cegah si tua. “aku pakai kapak yang lama saja.”</p>
<p>“Tapi kapak itu sudah tumpul nak, kamu tidak akan menang menggunakan kapak usang itu,” bantah sang emak.</p>
<p>“Mak, yang aku butuhkan hanya restu dan doa dari emak,” tutur si tua sembari mengajak emaknya kembali duduk. “Aku akan asah kapak itu setiap hari, Insya Alloh, pada saatnya nanti, kapak itu kembali tajam seperti saat pertama dia diciptakan”</p>
<p>Sang emak masih bimbang.</p>
<p>“Percayalah mak…, sekarang doa kan saja anakmu ini mak,” pinta si tua meyakinkan.</p>
<p>Akhirnya sang emak menyerah. Lalu mereka berdua terbenam dalam doa-doa sang emak.</p>
<p><span style="color: #0000ff;">Aihh…, maaf sahabat ku sayang, faza ngelantur lagi… jadi panjang sekali euy… dan belum sampai pesan moralnya.  Susah bener bikin cerita ringan yang nggak ngelantur kemana-mana…</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">cu….</span></p>
<p>Silahkan baca juga artikel terkait:</p>
<blockquote>
<ul>
<li><a href="http://perigitua.com/perigitua-com-dalam-renungan/" target="_blank">Perigitua dalam Renungan</a></li>
<li><a href="http://perigitua.com/hasil-sayembara-faza/" target="_blank">Hasil Sayembara Faza</a></li>
<li><a href="http://perigitua.com/faza-bicara-google/" target="_blank">Faza Bicara Google</a></li>
</ul>
</blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perigitua.com/faza-dalam-sayembara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>83</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perigitua dalam renungan</title>
		<link>http://perigitua.com/perigitua-com-dalam-renungan/</link>
		<comments>http://perigitua.com/perigitua-com-dalam-renungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 17:32:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perigitua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Nakal]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[Iseng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perigitua.com/?p=690</guid>
		<description><![CDATA[Konon ceritanya, di sebuah desa antah berantah, ada tiga pemuda yang bersahabat karib.  Mereka adalah si faza, si perigi en si tua.  Saking dekatnya mereka nyaris tidak terpisahkan.  Dimana ada si faza, di situ pasti ada si perigi dan si tua.  Bila si perigi pergi memancing ikan, si faza dan si tua ini pasti ikutan.  Kalau si tua beli bakso, si faza en si tua juga turut mendampingi, siapa tau di traktir ama shohibul hajat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Perigitua</strong> <strong>sett mode</strong> * <strong>renungan</strong> *</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Konon ceritanya, di sebuah desa antah berantah, ada tiga pemuda yang bersahabat karib.  Mereka adalah si faza, si perigi en si tua.  Saking dekatnya mereka nyaris tidak terpisahkan.  Dimana ada si faza, di situ pasti ada si perigi dan si tua.  Bila si perigi pergi memancing ikan, si faza dan si tua ini pasti ikutan.  Kalau si tua beli bakso, si perigi en si faza juga turut mendampingi, siapa tau di traktir ama shohibul hajat.<span id="more-690"></span></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Apalagi waktu acara TeTePe ama si <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.alexa.com/" target="_blank">Alexa</a>, anaknya lurah blog.ondos, yang cantiknya naudzubillah..</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Biarpun sampe pagi buta, itu si <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.alexa.com/" target="_blank">Alexa</a> tetep dikecengen juga.  Si perigi minum kopi, si tua nyulut rokok en si faza sibuk ngeganjel mata pake korek api.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Hingga suatu hari, lurah blog.ondos memanggil tiga sekawan itu via mr. eh.mail.  Tentu saja, undangan yang mantap surantap itu disambut dengan gembira.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Persiapan matang dilakukan untuk tampil prima di hadapan pak lurah itu. Penampilan mereka bertiga dalam sekajap jadi rapi jali.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Rambut si faza di bikin klimis, full minyak jelantah sisa ibu goreng teri. Si perigi juga tidak ketinggalan, sepatu bututnya dipermak abis-abisan, di poles pake arang sisa mbah dukun bakar kemenyan (soale itu arang hasil dari minta ama mbah dukun). Dan si tua lebih mantap lagi, celana hitam punya bapaknya dipotong 3/4 lalu yang seperempatnya mampir di leher, itu potongan celana ternyata sukses di sulap menjadi dasi.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Maklum saja, yang namanya lurah blog.ondos ini keturunan pendekar-pendekar hebat.   Konon kabarnya, nenek moyang beliau itu bernama eyang <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.google.com" target="_blank">Google</a> saketi.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Eyang <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.google.com" target="_blank">Google</a> saketi ini memiliki perguruan yang namanya <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.prchecker.info/check_page_rank.php" target="_blank">pagerank</a>.reng.  Eyang <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.google.co.id/" target="_blank">Google</a> sendiri terlahir dari rahim seorang pendekar tanpa tanding yang bernama Maya Internet.i.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Kesaktian Maya Internet-i ini sudah sangat kondang  di dunia persilatan.  Kehebatannya itu disegani kawan dan ditakuti lawan.  Karena beliau punya ilmu yang dapat menciptakan dunia sendiri.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Siapapun yang sudah terkena aji-aji ini, pasti takluk tidak sadarkan diri.  Ada yang jadi duduk berjam-jam, ada yang ketawa-ketiwi sendiri di pojokan, bahkan ada yang bela-belain kabur dari padepokan tempat dia menuntut ilmu hanya untuk bercengkarama dengan Maya Internet.i.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Saking ampuhnya ilmu itu, para pendekar seantero Indonesia Raya sepakat untuk menyebut ilmu itu dengan nama Dunia Maya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Huaahhh…, ceritanya cukup sekian dulu ya para sahabatku.  Perigitua pergi bentar ya, cari secangkir kopi en sebatang rokok di padepokannya nya para sahabat.  Sekalian selonjoran lalu pijit-pijitan. </span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Para sahabat santai-santai saja dulu di sini, Monggo hidangannya dinikmati.  Sudah ada kopi, susu, teh manis, air putih, pisang goreng, bakwan, rokok dan lain sebagainya.  Bagi yang pengen selonjoran juga silahkan. Kasur, karpet en tikarnya ambil sendiri di kamar ya. Oke guest…, perigitua tinggal dulu ya… dadagh…</span></p>
<p><span style="text-decoration: line-through;"><span style="color: #0000ff;">Eit, ada yang lupa, balik lagi deh jadinya.   Cuma mau ngasih bocoran saja, kalo para sahabat sudah tidak sabar untuk melanjutankan renungannya, silahkan pelototin aja, random page artikel perigitua.  Soale lanjutane dah siap kok.</span></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Biarpun rencana release tanggal 17 Agustus 2009 pukul 00.00 waktu perigitua.com, tapi buat teman-teman aku ikhlas bin ridho nggak pake <span style="color: #ff0000;"><span style="text-decoration: line-through;">irama</span> </span>Roma (koreksi by<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://daroachphobia.wordpress.com" target="_blank"> Edda</a>), bila para sahabat ingin mencuri start untuk melanjutkan renungannya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Para sahabat cukup klik aja, siapa tahu sahabat  beruntung menemukannya.  Dan jangan lupa tinggalkan jejak sandal ditinggal juga ya…</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Ok, time is up…</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Be nice narablog guest… keep the fight.. for  better world…</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">cu….</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">___________</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff;">Maaf ya, sahabat sahabat ku sayang, lanjutannya di cancel dulu, karena ada award yang mungkin ditunggu orang dan memang harus segera dilanjutkan&#8230;</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><span style="color: #ff00ff;">cu&#8230;</span></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><span style="color: #ff00ff;"><span style="color: #000000;">Silahkan baca juga artikel terkait :</span></span></span></p>
<blockquote>
<ul>
<li><span style="color: #0000ff;"><span style="color: #ff00ff;"><span style="color: #000000;"><a href="http://perigitua.com/faza-dalam-sayembara/" target="_blank">Faza dalam Sayembara</a></span></span></span></li>
<li><span style="color: #0000ff;"><span style="color: #ff00ff;"><span style="color: #000000;"><a href="http://perigitua.com/hasil-sayembara-faza/" target="_blank">Hasil Sayembara Faza</a></span></span></span></li>
<li><span style="color: #0000ff;"><span style="color: #ff00ff;"><span style="color: #000000;"><a href="http://perigitua.com/faza-bicara-google/" target="_blank">Faza Bicara Google</a><br />
</span></span></span></li>
</ul>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perigitua.com/perigitua-com-dalam-renungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayah Tidak Pulang Beibeh</title>
		<link>http://perigitua.com/ayah-tidak-pulang-beibeh/</link>
		<comments>http://perigitua.com/ayah-tidak-pulang-beibeh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 13:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perigitua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nakal]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[tidak pulang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perigitua.com/?p=594</guid>
		<description><![CDATA[“Ayah pulang… Ayah pulang…,” Hhh…, seperti itulah nyanyian riang Afra, bila sang bunda memberitahu bahwa aku sedang dalam perjalanan menuju pulang. Dan aku sudah membayangkan raut kecewa di wajah polosnya, saat dia tahu pada ayah nya ini nggak bisa pulang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">“<em>Ayah</em> <em>pulang</em>… <em>A</em>yah <em>pulang</em>…,” Hhh…, seperti itulah nyanyian riang Afra, bila sang bunda memberitahu bahwa aku sedang dalam perjalanan menuju <em>pulang</em>. Dan aku sudah membayangkan raut kecewa di wajah polosnya, saat dia tahu pada <em>ayah</em> nya ini nggak bisa <em>pulang</em>.</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Dengan perasaan bersalah, aku mengambil handphone untuk mengabarkan hal itu. Ku tekan angka 2 dan dial….<span id="more-594"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">“Assalamu’alaikum….Hai… Say, Apa kabar? Maaf, minggu ini aku nggak bisa <em>pulang</em>, ya. Soale ada kerjaan yang nggak bisa aku tinggal. Dan bla… bla… bla….”<span id="more-429"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Dan seperti biasa, Inno-ku dapat menerimanya. Aku tahu, di seberang sana, dia pasti tersenyum, senyum kecewa. Tapi yang terdengar di telingaku, dia dapat mengerti dan memahami. Kemudian terdengar suara merdunya memberi tau semua yang terjadi hari.</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">“Afra baik-baik aja. Alhamdulillah, pileknya sudah sembuh dan sekarang sedang main sama temen-temennya,” tutur Inno-ku memberi kabar. “Sudah…, santai aja. Semua baik-baik aja kok. Kondisi aman terkendali. Mas nggak usah terlalu mikirin yang di rumah, ya, konsentrasi saja pada pekerjaan. Ok!,” sambungnya memberi semangat.</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Hhhh, seperti itulah dan memang selalu begitu.  Inno-ku nggak pernah marah, protes or apalah…. Dan itu justru yang membuat aku semakin merasa bersalah.  Karena memang seharusnya, saat ini, aku sudah ada di sampingnya, bercengkrama sambil nonton tv atau mendengarkan lagu-nya the lucky laki versi Afra. Aihh.., maafkan aku Inno-ku sayang, maafkan juga <em>ayah</em> mu ini Nak, karena kali ini <em>ayah</em> bener-bener nggak bisa <em>pulang</em>.</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;">Aku termenung,  Lagunya <span style="color: #0000ff;"><strong>The Dance Company</strong></span> terdengar bolak-balik entah sudah berapa kali. Ya, gitu deh… Memang malam ini, cuma satu lagu yang aku add di playlist Mp3 komputerku. <span style="color: #0000ff;"><strong>Papa Rock en Roll</strong></span> begitu mengena di hati. Tanpa sadar, aku turut bernyanyi, cuma papa nya di ganti dengan <em>ayah</em>….</p>
<p style="margin-bottom: 0pt;">
<p align="center"><span style="color: #0000ff;"><em>Ayah</em> memang harus begini<br />
Sering bikin sakit hati<br />
<em>Ayah</em> nggak <em>pulang</em> beibeh<br />
<em>Ayah</em> nggak bawa uang beibeh</span></p>
<p align="center"><span style="color: #0000ff;"><em>Ayah</em> mungkin seminggu di bali<br />
Nyari panggung sana sini<br />
<em>Ayah</em> nggak <em>pulang</em> beibeh<br />
<em>Ayah</em> nggak bawa uang beibeh</span></p>
<p align="center"><span style="color: #0000ff;">Bukanlah rasa untuk lari<br />
Itu tuntutan profesi<br />
<em>Ayah</em> nggak <em>pulang</em> beibeh<br />
<em>Ayah</em> nggak bawa uang beibeh</span></p>
<p align="center">
<p style="text-align: justify;">Hhh…, sekarang renunganku lebih mendalam lagi. Untuk apa semua ini? Bukankah aku banting tulang mencari uang untuk membahagiakan mereka.  Lalu bagaimana aku bisa melakukannya bila waktuku sendiri teramat sedikit untuk mereka.   Pekerjaan ini terlalu banyak menyita waktu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sudahlah, biarkan saja aku merenung kembali. Berpikir dan berpikir lagi, tentang bagaimana cara untuk lebih membahagiakan keluargaku lagi</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>The Dance Company</strong></span> masih bernyanyi, aku juga masih turut berdendang….</p>
<p align="center">
<p align="center"><span style="color: #0000ff;">Mama please, please don’t be angry<br />
<em>Ayah</em> sibuk …<br />
<em>Ayah</em> nggak <em>pulang</em> beibeh<br />
<em>Ayah</em> nggak bawa uang beibeh</span></p>
<p align="center"><span style="color: #0000ff;">pengen kayak Bon Jovi (I’ll be there for you)<br />
rock star yang sayang istri<br />
Mama aku disini<br />
Memelukmu lagi</span></p>
<p align="center">
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-align: right;">*Special thx buat <span style="color: #0000ff;"><strong>The Dance Company</strong></span> yang udah menyindirku abis-abisan.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="font-weight:normal;">Silahkan baca juga artikel terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://perigitua.com/debat-caracap-ada-ada-aja/" target="_blank">Debat Caracap dalam Dunia Khayal</a></li>
<li><a href="http://perigitua.com/ku-tak-laku-laku/" target="_blank">Cari Jodoh (Tak Laku-Laku)</a></li>
<li><a href="http://perigitua.com/sahur-ala-koboi-beriman/" target="_blank">Sahur Ala Koboi Beriman<br />
</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perigitua.com/ayah-tidak-pulang-beibeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Debat CaRaCap dalam DUNIA KHAYAL</title>
		<link>http://perigitua.com/debat-caracap-ada-ada-aja/</link>
		<comments>http://perigitua.com/debat-caracap-ada-ada-aja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 12:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perigi tua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nakal]]></category>
		<category><![CDATA[depat terbuka]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perigitua.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[sebuah debat untuk memilih pemimpin. pemimpinan itu atas program kerja yang dapat dijalankan sebaik mungkin, dengan penuh pertanggungjawaban dihadapan Allah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --><strong>Suatu hari, di <em>dunia khayal </em>ku</strong></p>
<p>Seperti biasa, hari ini aku bertugas mendampingi istriku, belanja mingguan ke pasar induk yang letaknya di ujung kota sana.</p>
<p>Setelah muter-muter berkeliling pasar, tinggal satu kebutuhan dapur yang belum terpenuhi, <em>KECAP</em>!!! Aku nggak tau pada kemana para penjual <em>kecap</em> ini, biasane di pinggiran pasar pedagang-pedagang kecap itu banyak bertebaran, tapi kok hari ini aneh, semua raib. Kios-kios nya pada tutup semua. Entah pada kemana mereka.<span id="more-193"></span></p>
<p>Lewat perjuangan panjang, dan juga menggunakan teknik interogasi tingkat tinggi, akhirnya diperoleh informasi yang validitasnya sangat dapat dipertanggungjawabkan bahwa para pedagang <em>kecap</em> ini sedang berkumpul untuk menyaksikan <em>debat</em> CaRaCap (Calon Raja <em>keCap</em>). Maklum aja, raja yang lama telah tewas tertimpa ribuan botol kecap waktu terjadi gempa beberapa bulan yang lalu.</p>
<p>Dan  hari ini mereka mengadakan debat CaRaCap untuk mengetahui siapa yang cocok dan pantas menjadi <em>raja kecap</em> selanjutnya. Hehehe&#8230; aku ketawa sendiri dalam hati, hebat juga neh para tukang kecap, ga mau kalah dengan elit politik di negeri ini yang lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan pemilu di republik ini.</p>
<p>Aku sudah berniat tuk pulang aja, males nyari tempat para penjual <em>kecap</em> itu berkumpul. Eee&#8230;ladalah, Inno ku sayang ngambeg. Pokoknya harus beli <em>kecap</em>, soale si kecil Afra memang maniak banget ama yang namanya kecap.</p>
<p>Sebagai seorang bunda, dia bertanggung jawab penuh untuk memenuhi kebutuhan anak semata wayang kami. Belum lagi memprediksi efek negatif bila kita tidak membeli <em>kecap</em>. Afra jadi ga nafsu makan, trus bobot badannya susut, lalu sakit, ntar ga bisa sekolah, kalo ga sekolah ntar masa depannya bisa suram. Hiiii&#8230;, merinding juga ngebayanginnya. Padahal ini kan cuma masalah <em>kecap</em>, kenapa bisa nyambung ke masa depan anak kami tercinta ya ???</p>
<p>Akhirnya aku nyerah, berdebat dengan istri tercinta bisa mengundang malapetaka. Dan aku tau pasti akan hal itu. Maka dengan semangat 45, afra ku gendong dengan tangan kiri dan belanjaan ku tenteng dengan tangan kanan. Langkah ku ayun lebih cepat untuk menyusul bundanya afra yang udah lebih dulu berjalan menuju gedung pertemuan di tengah pasar, tempat <em>debat</em> berlangsung.</p>
<p>Setibanya di lokasi, aku terkesima. Luar biasa meriahnya. Tak kalah dengan <em>debat </em><span style="font-style:normal;">capres</span> yang diselenggarakan oleh KPU, cuma bedanya <em>debat </em>yang ini tidak disiarkan oleh tv swasta nasional.</p>
<p>Ada moderator, ada tim sukses para calon, dan calon rajanya juga ga tanggung-tanggung, ada lima orang. Hebat&#8230; hebat&#8230;, capres kita aja cuma ada tiga. Salut !</p>
<p>CaRaCap 1 maju, dengan lugas dia memaparkan program kerjanya, disusul dengan ke-4 CaRaCap lainnya. Setelah selesai termin program kerja, langsung di buka tanya jawab. Dengan penuh semangat, para konstituent mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh para CaRaCap dengan sangat meyakinkan.</p>
<p>Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba tanganku ngacung, Cung&#8230;!!! Dan segera dipersilahkan oleh mbak moderator yang kemayu itu.</p>
<p>“Bapak-bapak CaRaCap yth&#8230;,” aku mengawali pertanyaanku. “Apakah bapak-bapak yakin program anda bisa berjalan dan dapat membuat hidup kami semua menjadi lebih baik?”</p>
<p>Masing-masing calon menyatakan keyakinannya dengan argumen-arguman yang sangat mantap. Dan aku manggut-manggut mendengar penjelasannya.</p>
<p>“Apakah bapak sanggup mempertanggungjawabkannya?”</p>
<p>Masing-masing menyatakan kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan program kerjanya di hadapan para pemilih. Bahkan mereka bersedia membuat kontrak kerja, bila program mereka tidak berjalan, mereka bersedia lengser sebagai Raja kecap.</p>
<p>“Bukan pada kami, bapak-bapak. Tapi pertanggungjawaban di hadapan Alloh,” tanyaku meluruskan maksud pertanyaanku.</p>
<p>Semua CaRaCap terdiam.</p>
<p>“Apakah bapak sekalian sadari, apapun yang bapak janjikan hari ini, sudah dicatat oleh para malaikat. Dan akan di pertanyakan lagi kelak?”</p>
<p>Para CaRaCap masih bungkam.</p>
<p>“Apakah bapak sekalian pahami, jabatan itu sebuah amanah. Memang benar, jabatan yang bapak-bapak perebutkan ini tidak sehebat jabatan presiden yang mengatur negeri ini, tapi di tangan bapak-bapaklah, kelak nasib para produsen <em>kecap</em>, para pedagang <em>kecap</em> dan para konsumen <em>kecap</em> bergantung,” tanyaku makin berapi-api.</p>
<p>Para calon itu makin terdiam.</p>
<p>“Apakah&#8230;,” tanyaku terhenti oleh sikutan istriku. Dari lirikan matanya, aku dapat melihat satu isyarat. Dan ya, Alloh&#8230;, aku kaget melihat para pendukung CaRaCap.</p>
<p>Mereka melotot padaku. Tangan-tangan mereka terkepal mengancamku.</p>
<p>Akhirnya dengan terbata penuh ketakutan, aku lanjutkan pertanyaan yang sudah di ujung lidah dengan kata-kata yang semoga bisa meredakan emosi mereka.</p>
<p>“Eee&#8230;, bapak-bapak ga perlu menjawab, silahkan saja bapak-bapak yth renungkan dan jawab saja di dalam hati masing-masing,” ucapku mengakhiri. “Sebenarnya saya ke sini cuma mau beli <em>kecap</em>, silahkan bapak lanjutkan acaranya. Sekian dan terima kasih.”</p>
<p>Tepuk tangan meriah menutup pertanyaan panjangku.</p>
<p style="font-weight:normal;">Setelah membeli dua botol <em>kecap</em>, aku, istri dan juga afra langsung kabur menuju tempat parkiran. Ku ambil sepeda kumbangku, ku kayuh kalang kabut, langsung ngebut, ga pake kentut, standing dan terbang.</p>
<p style="font-weight:normal;">
<p style="font-weight:normal;">silahkan baca juga artikel terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://perigitua.com/ku-tak-laku-laku/" target="_blank">Cari Jodoh (Tak Laku-Laku)</a></li>
<li><a href="http://perigitua.com/sahur-ala-koboi-beriman/" target="_blank">Sahur Ala Koboi Beriman</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" href="../ayah-tidak-pulang-beibeh/" target="_blank">Ayah Tidak Pulang Beibeh</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perigitua.com/debat-caracap-ada-ada-aja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>74</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CARI JODOH (Tak Laku Laku)</title>
		<link>http://perigitua.com/ku-tak-laku-laku/</link>
		<comments>http://perigitua.com/ku-tak-laku-laku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 04:48:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perigi tua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nakal]]></category>
		<category><![CDATA[cari jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[Iseng]]></category>
		<category><![CDATA[jomblo]]></category>
		<category><![CDATA[tak laku laku]]></category>
		<category><![CDATA[wali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perigitua.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[cerita yg diilhami oleh lagunya wali tentang seseorang yang sedang mencari jodoh. beberapa usaha telah dilakukan namun gagal. tapi dia percaya ada seorang yang tengah dipersiapkan Alloh untuk mendampinginya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;" align="center">“Apa salahku&#8230; Apa salah ibuku&#8230; Hidupku di rundung pilu&#8230;Tak ada yang mau&#8230;Yang menginginkan aku&#8230;Tuk jadi pengobat pilu&#8230;Tuk jadi penawar rindu&#8230;Tuk jadi kekasih hatiku&#8230;”</p>
<p style="margin-bottom:0;">Senandung <em><span style="font-weight:normal;">Cari Jodoh</span></em>-nya <em>Wali</em> mengalun nakal di kedua gendang telingaku. Hihihi&#8230; Aku sering ketawa sendiri mendengar lirik lagu ini. Apa hubungannya kesalahan ibuku dengan nasib diriku. Aku emang tidak <em>laku-laku</em>, tapi ibuku so pasti sudah laku. Kalo belum laku, bagaimana mungkin aku bisa nongol di dunia ini? Hehehe.. bantah hatiku senakal <em>Wali</em> yang membawa-bawa sang emak di lagunya itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Tapi biarpun dengan malu-malu, harus ku akui lagu itu adalah lagu favoritku. Liriknya begitu familiar en pas banget buatku yang sedang men <em>Cari Jodoh</em>. Tau kenapa? Soale <span style="font-weight:normal;">GUE BANGET </span>gitu loh&#8230;<span id="more-68"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Entahlah&#8230; Sampe detik ini belum ada satu gadis pun yang menjadi kekasih hatiku. Padahal aku ini termasuk tipe CoCa CoLa lho, itu juga kata para kaum hawa yang menjadi rekan kerjaku. Malah ada yang suka ngeledek, “Coba kalo gw belom nikah, pasti gw lamar kamu&#8230;” Gubrak&#8230;! Sial dangkalan. Ngeledek sih ngeledek, tapi pake &#8216;dengkul&#8217; dong. Aku kan laki-laki, masak laki-laki dilamar sama perempuan?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Sejujurnya aku juga penasaran, kenapa aku selalu apes kalo dah menyangkut urusan asmara? Atau aku yang terlalu bego untuk hal yang satu ini ?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Pernah aku memagut diri di cermin milik adekku yan gedenya &#8216;naudzubillah&#8230;&#8217;. Rasanya lumayan kok. Mungkin dapetlah kalo point 7 apalagi kalo sama temen, bisa deh tembus point 8, hehehe&#8230;. Di usiaku yang sudah kepala 2 mepet abis ke kepala 3, aku udah terhitung mapan. Pekerjaan sangat menjanjikan, pendapatan lebih dari cukup, mobil punya, rumah juga ada, trus apalagi kekuranganku? Tapi kenapa urusan <em>cari jodoh</em><span style="font-style:normal;"> saja aku selalu gagal.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Mana tiap hari ibuku nanyain mana calon mantunya or kadang-kadang beliau juga bilang dengan nada setengah keluhan, “Udah pengen nimang cucu.” Huaaa&#8230; lengkap sudah kegalauan hati ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Cuma Pasrah? O&#8230; tentu tidak. Aku bukan tipe seperti itu. Kalo tawakal, so pasti itu selalu ada dalam setiap ikhtiar hidup ini. Jadi <em>cari jodoh</em><span style="font-style:normal;"> nya tetep berlanjut deh.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Aku pernah coba mendekati wanita-wanita seusiaku, ternyata ga cocok. Aku juga pernah mencoba menjalin hubungan dengan mahasiswi-mahasiswi yang dikenalkan kepadaku. Gagal juga ujung-ujungnya. Saking hopples-nya, aku pernah nekat nyatroni gadis-gadis SMU, sapa tau ada di antara mereka yang menjadi jelmaan tulang rusukku yang ilang ini. Tapi ternyata nasib belum juga mau berubah, mereka pun tidak mampu mengisi ruang kosong di hati ini. Aihh, ternyata <em>jodoh</em><span style="font-style:normal;"> ku belum juga ku temukan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Orang tuaku juga tak kalah semangatnya. Entah sudah berapa banyak gadis, anak dari teman mereka, di <em>jodoh </em>kan denganku. Namun hasilnya tetep nol besar. Bahkan suatu ketika, &#8216;saking&#8217; ngebetnya pengen punya mantu, ibuku pernah menggandeng tangan seorang gadis cantik yang baru di kenalnya di salah satu swalayan ke parkiran mobil dimana aku tengah pasrah menunggu beliau yang sedang berbelanja.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Dugem juga pernah aku coba, biarpun cuma sekali dan ga lama. Waktu itu seorang teman mengajakku, biar gaul katanya. Dia juga bilang, kalo di tempat seperti itu banyak cewe cantiknya, sapa tau ada yang jadi <em>jodoh</em><span style="font-style:normal;"> ku</span>. Pikir punya pikir, Hayuk lah&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">Baru saja masuk selangkah, kepalaku udah di bikin nanar oleh suara yang kuenceeeng banget&#8230;. jedag jedug&#8230;jedag jedug&#8230; bikin tambah puyeng kepala ini. Gimana mau kenalan, musiknya aja udah bikin semaput semangatku tuk hunting <em>jodoh</em> hidup, apalagi suasananya yang remang-remang, mana bisa melihat dengan jelas wajah-wajah yang katanya bisa jadi itu <em>jodoh </em>ku.</p>
<p style="margin-bottom:0;">“Pram&#8230; Pram&#8230;, ono-ono wae,” keluhku menyesali keputusanku mengikuti anjurannya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Hingga suatu ketika, iseng-iseng mampir ke sebuah toko buku. Muter-muter, mondar-mandir, berhenti sebentar untuk bolak-balik buku yang sebenarnya aku sendiri tidak tau buku apa yang aku cari. Sampe akhirnya, mataku tertumbuk pada sebuah buku tentang perkawinan. Iseng-iseng aku baca prolognya dan mataku tiba-tiba saja berbinar-binar.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Ada petikan ayat Al-Qur&#8217;an yang terjemahannya seperti ini:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">“<strong>Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu kasih sayang. Sesungguhnya pada hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Qs. Ar-Ruum (30):20-21)&#8221;</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Usai membaca terjemahan ayat tersebut, plooong&#8230; rasanya. Beban yang selama ini menggelayut dan tak pernah lepas, tiba-tiba saja lenyap tak berbekas. Asa yang nyaris padam itu berkobar kembali. Alloh telah menjanjikannya. Seorang istri terbaik untukku dan aku yakin 100% akan janji Alloh. Mungkin saat ini, entah di belahan  dunia yang mana, Alloh tengah mempersiapkan wanita terbaik untuk menjadi permaisuri jiwaku. So&#8230;, I will searching again. Kalo perlu pinjem search engine-nya <span style="font-weight:normal;">mbah<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.google.co.id/"> </a></span><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.google.co.id/"><em><span style="font-weight:normal;">Google</span></em></a><em><span style="font-weight:normal;">, mr. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.yahoo.com/">Yahoo</a> or om <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.msn.com">MSN</a></span></em><span style="font-weight:normal;">.</span> Hehehe&#8230;, pokoke Never give up &#8211; lah yaow&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">Tapi sembari menunggu ketemu, aku akan tetep bersenandung lagunya si Wali itu&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-weight:normal;" align="center">“Ibu ibu bapak bapak&#8230; Siapa yang punya anak&#8230; Bilang aku&#8230;Aku yang tengah malu&#8230;Sama teman-temanku&#8230;Kar&#8217;na cuma diriku&#8230;Yang <em>tak laku-laku</em>&#8230; Pengumuman pengumuman&#8230;Siapa yang mau bantu&#8230;Tolong aku&#8230;Kasihani aku&#8230;Tolong carikan diriku&#8230;Kekasih hatiku&#8230;Siapa yang mau&#8230;Ku <em>tak laku-laku</em>&#8230;”</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="right">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="right">Special thank&#8217;s for <em>WALI</em> atas lagunya <em>Cari Jodoh</em> yang asyik en Inspiratif</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">___________________________________________________________</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><em>Sorry ya istriku sayang, ini cuma sekedar tulisan aja buat menyemangati para jomblowan jomblowati se Indonesia raya. Namanya juga iseng&#8230;. hehehe&#8230;</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="font-weight:normal;">silahkan baca juga artikel terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://perigitua.com/debat-caracap-ada-ada-aja/" target="_blank">Debat Caracap dalam Dunia Khayal</a></li>
<li><a href="http://perigitua.com/sahur-ala-koboi-beriman/" target="_blank">Sahur Ala Koboi Beriman</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" href="../ayah-tidak-pulang-beibeh/" target="_blank">Ayah Tidak Pulang Beibeh</a></li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perigitua.com/ku-tak-laku-laku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
