Skip to content

Archive

Category: Cerpen

Silahkan baca dulu artikel Perigitua Mencari Bahagia 1, biar lebih afdol dan mantep.  Hihihihi… mohon dimaklumi aja ya, otak oon saroonku belum nyampe untuk ngutak-ngatik <-nextpage->

“Bagaimana le? Bahagiakah lelaki itu?” tanya mbah google.

Perigitua menarik napas panjang.

“Dia tidak bahagia mbah…,” jawab perigitua pelan.

“Sekarang lihat yang ini le…,” pinta mbah google mendekatkan kaca benggalanya. silahkan baca selengkapnya…

Untuk kesekian kalinya, perigitua menghadap mbah google, sang guru spiritualnya.

“Bahagia itu apa mbah?” tanya perigitua. Wajah jeleknya berkalang kabut kesedihan.

Mbah google terkekeh panjang.

“Hayah…, pertanyaanmu le…,” tutur mbah google disela kekehnya. “ Aya aya wae… mbok ojo nganeh nganehi ngapa?” silahkan baca selengkapnya…

Pagi itu, perigitua menghadap sang guru spiritual yang bernama mbah google.

“Berat mbah…,” keluh perigitua.

Mbah google hanya terkekeh sambil menyedot rokok kretek andalannya pagerank cigaretes. Tawanya masih terdengar saat nyeruput kopi panas bikinan murid kesayangannya yang bernama putri alexa.

“Kamu ini… Jadi laki-laki kok mlempem…,” tutur mbah google dengan santainya. Sepotong pisang goreng langsung amblas masuk ke dalam perut buncitnya. silahkan baca selengkapnya…

Aku baru saja masuk ke dalam rumah ketika aku melihat seorang bocah cilik celingak celinguk di depan pintu gerbang. Dari jendela rumah yang tertutup kelambu, ku awasi tingkah lakunya.

Satu-dua langkah bocah itu terayun memasuki halaman. Mata beningnya menyambar liar manyapu seluruh pekarangan rumahku.

“Geblek! Kecil-kecil sudah mau jadi maling nih bocah,” rutukku dalam hati. Tanganku sudah gemas pengen menjitak kepala itu bocah. silahkan baca selengkapnya…

Hehehe…, sabtu sore, memang faza mengejar mas-mas tuh. Mengejar seorang sahabat yang telah lebih dulu menjejakkan kaki nya di sepanjang jalur pantura.

Yayaya…, mas-mas itu bernama ~noe~, dia memang lebih cepat sehari menyusuri jalanan itu. Dan sekarang giliran faza, mengikuti jejaknya. Menyusuri jalanan aneh bin ajaibnya pantura, dengan satu tujuan pulang ke pangkuan cinta. silahkan baca selengkapnya…

Matahari baru saja beranjak menapaki garis edarnya, saat lurah Google mengumpulkan seluruh warga kampung maya. Di halaman istana kelurahan, beliau berdiri dengan gagah lengkap dengan pakaian kebesarannya. Di sampingnya, putri Alexa berdiri anggun. Dan beberapa langkah di belakangnya, tiga pemuda tampan berdiri tegak dengan kapak siap di pundak. Tiga pemuda gagah itu tidak lain dan tidak bukan adalah si faza, si perigi dan si tua. silahkan baca selengkapnya…

Sahabat ku sayang, kali ini faza akan menyambung cerita yang pernah terputus di tengah jalan, karena tangan ini mencet-mencet keyboard begitu saja sampai akhirnya jalan cerita mengalir begitu saja en yang jelas, makin tidak jelas juntrungannya.

Sebuah cerita tentang tiga orang sahabat yang bernama si faza, si perigi dan si tua. Masih ingatkah? Semoga saja para sahabat masih ingat, tapi kalaupun sudah lupa, silahkan baca artikel terkait di bawah postingan ini ya…. silahkan baca selengkapnya…