Skip to content

Archive

Category: Cerpen

Perigitua sett mode * renungan *

Konon ceritanya, di sebuah desa antah berantah, ada tiga pemuda yang bersahabat karib.  Mereka adalah si faza, si perigi en si tua.  Saking dekatnya mereka nyaris tidak terpisahkan.  Dimana ada si faza, di situ pasti ada si perigi dan si tua.  Bila si perigi pergi memancing ikan, si faza dan si tua ini pasti ikutan.  Kalau si tua beli bakso, si perigi en si faza juga turut mendampingi, siapa tau di traktir ama shohibul hajat. silahkan baca selengkapnya…

“Apa yang kamu tunggu, bro..?” tanyaku.

Faza terdiam.

“Yaaa…, entahlah,” jawab Faza menggantung.

Aku melongo persis orang bego, “Lah, jawaban apa itu…?”

Tawa yang hampir keluar dari mulutku tertelan kembali. Aku lihat Faza tiba-tiba murung. Faza yang biasanya suka cengengesan tiba-tiba begitu pendiam. Keruh di wajahnya jelas terlihat nyata. Sahabat lamaku itu sedikit berubah. silahkan baca selengkapnya…

Assalamu’alikum…

Selamat datang di perigitua.com, blog sederhana ini merupakan perwujudan dari keinginan berbagi Faza tentang hidup dan kehidupan. Setelah selama dua bulan, Faza mencoba berbagi dengan artikel bertema kehidupan di perigitua.wordpress.com dengan hasil yang cukup baik. Indikasi keberhasilan perigitua.wordpress.com dapat dilihat dari pagerank 2 dan Alexa yang meningkat (menurun??? angkanya jadi turun tuh, hehehe…) drastis, padahal baru sekitar satu minggu di pasang widget nya. Tetapi keberhasilan terbesar perigitua.wordpress.com adalah antusias teman-teman untuk selalu berbagi dan berbagi demi kehidupan yang lebih baik lagi. silahkan baca selengkapnya…

Perigitua.com adalah rumah baru bagi Faza. Dan seperti sebuah rumah pada umumnya, Faza akan berusaha untuk merawatnya sebaik mungkin. Rumah ini akan diberi pondasi yang kuat, dihiasi dengan cat yang indah dan diisi dengan perabotan yang layak.

Rumah adalah tempat kita hidup bersama orang-orang tercinta, tempat kita membangun mimpi dan berusaha untuk lebih baik lagi di esok hari. Rumah adalah tempat kita beristrirahat dan juga tempat yang tepat untuk mengobati semua luka yang kita derita selama perjalanan hidup ini. silahkan baca selengkapnya…

Lelaki muda itu terdiam. Duduk memeluk lutut di teras rumahnya yang sederhana. Ada luka yang terpancar dari sorot mata yang kosong itu.

Angin malam yang berhembus dingin, tak menggoyahkan posisi duduknya sama sekali. Kelamnya malam, juga tak mampu halangi pandangan matanya yang menyapa bulan dan bintang yang berpendar malu-malu di angkasa raya. silahkan baca selengkapnya…

Kegundahan hatiku membawa langkah ini ke sini, sebuah desa yang terpencil namun asri. Gunung tinggi menjulang, hamparan sawah membentang, sungguh mempesona. Tak ada bising kendaraan, tak dering HP karena di sini memang tidak ada sinyal.

Hhmmm, sebuah desa yang jauh dari peradaban kota. Semua begitu alami. Kicau burung, sapaan sang bayu yang berbisik sepoi-sepoi dan keramahan para penduduknya sungguh memikat sukma.

Tarikan nafasku panjang dan dalam. Ku hirup sepuasnya udara pegunungan yang belum ternodai ulah kemajuan jaman. Tarikan nafasku makin dalam dan berulang-ulang. Berharap setiap tarikannya mampu mengurangi beban di hati. Semoga nafas yang ku hembuskan dapat membawa serta segala masalah yang ada, melantakkannya di dasar jurang terjal di ujung utara sana atau menghempaskannya pada gunung yang sombong mengangkang di depan mata. silahkan baca selengkapnya…

“Engkiiii, tuluuuunn…,” teriak si kecil afra melihat kakek nya sedang mencoba motor baru milik si bungsu Ayas. Ya, hari itu motor matic tantenya afra dateng dari dialer.

“Ayoo… Afra sini…Ikut muter-muter yuk,” ajak sang kakek.

Menurut laporan istriku, waktu itu afra malah jejeritan ampe nangis menyuruh kakek nya turun dari motor. Tampang bocah itu sih mupeng pengen ikut naik, tapi dia tetep ga bergeming dari sisi bundanya. silahkan baca selengkapnya…