Sahabat ku sayang, kali ini faza akan menyambung cerita yang pernah terputus di tengah jalan, karena tangan ini mencet-mencet keyboard begitu saja sampai akhirnya jalan cerita mengalir begitu saja en yang jelas, makin tidak jelas juntrungannya.
Sebuah cerita tentang tiga orang sahabat yang bernama si faza, si perigi dan si tua. Masih ingatkah? Semoga saja para sahabat masih ingat, tapi kalaupun sudah lupa, silahkan baca artikel terkait di bawah postingan ini ya….
Dan hari yang ditentukan itu pun tiba. Tiga sahabat itu menghadap lurah Google dengan diiringi senyum malu-malu non Alexa, putri semata wayang sang lurah itu.
Di atas singgasana kelurahan, lurah Google menyampaikan sabdanya. Si faza melongo, si perigi mengucek-ucek telinganya, dan si tua mencubit tangannya sendiri mendengar berita yang disampaikan sang lurah.
Dengan bijak, lurah Google membiarkan kekagetan tiga pemuda itu mereda, baru kemudian dia membuka sesi tanya jawab. “Biar kelihatan lebih demokratis dan terjadi komunikasi dua arah,” begitu pendahuluan beliau sembari membuka sesi tanya jawab itu.
Diskusi berjalan dengan seru. Dan memang si faza, si perigi dan si tua berusaha memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Tanpa terasa, waktu yang dialokasikan lewat sudah, perpanjangan waktu menjadi satu-satunya pilihan. Ternyata perpanjangan waktu saja tidak cukup, time out dengan secangkir kopi dan cemilan renyah telah menyelingi sebanyak tiga kali.
Setelah semuanya dirasa cukup jelas, si faza, si perigi, dan si tua undur diri. Tiga sahabat itu bergegas pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan segala sesuatunya demi keperluan sayembara special itu.
Di rumah si faza
“Bagaimana Yah, boleh aku ikut sayembara ini?” Tanya si faza setelah menceritakan hal ihwal tentang sayembara yang dibuat oleh lurah Google pada seluruh keluarga.
Sang ayah nampak berpikir sambil mengelus-elus tiga lembar janggut yang panjang menjuntai.
“Hhhmmm…,” gumam sang ayah menjadi pendahuluan.
“Ayah pikir sayembara ini adalah kehormatan buat keluarga kita. Apalagi hanya kalian bertiga yang boleh mengikutinya. Bagaimana menurutmu bun…?” ayah meminta pendapat bunda.
“Iya yah, bunda juga merasa seperti itu. Mempunya mantu seperti non Alexa…, mimpipun ibu nggak berani yah…,” tutur bunda menyampaikan pendapatnya.
Si faza tertunduk dengan muka kemerahan. Di otaknya sudah terbayang waktu duduk bersanding di pelaminan bersama Alexa. Setelah itu, setelah semua ritual pernikahan selesai, dia akan menggendong Alexa masuk kamar, lalu… lalu… CUT…! Aih.., maaf ya sahabat semua, faza jadi ngelantur lagi kemana-kemana. Hehehe…, Piss…!
“Yayaya…, menjadi besan lurah Google…??? Sungguh luaarr biaasaa bila itu bisa jadi kenyataan,” gumam sang ayah seperti pada diri sendiri.
Si faza masih terdiam, berusaha menyembunyikan kegembiraannya melihat dukungan dari ayah bundanya.
“Ok, Le.., ayah setuju seratus persen. Besok ayah akan jual sawah kita untuk membelikanmu kapak nomor satu. Kapak terbaik yang pernah diciptakan di dunia ini”
Si faza terlonjak mendengar janji sang ayah.
“Bener yah..?” tanyanya meyakinkan.
“Bener, suer tak kewer-kewer. Mudah-mudahan dengan kapak itu, engkau akan keluar jadi pemenang.,”
“Amiiieeenn…!” kompakan mereka berseru menjadikan ucapan sang ayah menjadi sebuah doa.
Di rumah si perigi
Sesampainya di rumah, si perigi mengumpulkan seluruh anggota keluarganya. Ada bapak, ibu, dan dua adiknya yang masih kecil-kecil. Lalu dia menceritakan tentang sayembara yang ditawarkan oleh lurah Google.
“Bagaimana Yah, bu, apakah aku diijinkan untuk mengikuti sayembara itu?”
“Sembarangan kamu,”samber bapak cepat, “jelas kamu tidak hanya diberi ijin tetapi kamu juga akan mendapatkan support maxi dari kami, iyakan bu?”
Sang ibu mengangguk-angguk setuju.
Si perigi sumringah mendapati keluarganya yang begitu antusias menyambut sayembara ini.
“Lalu apa yang harus aku siapkan pak?”
“Tenang saja, Besok ayah akan jual dua sapi kita, untuk membelikanmu kapak yang bagus. Mungkin bukan kapak nomor satu, tapi minimal yang nomor 2 bisa kita dapatkan”
Semuanya manggut-manggut tanda setuju.
“Semoga engkau dapat memenangkan sayembara ini anakku,” doa sang ibu yang langsung diamini oleh seluruh anggota keluarga.
Di rumah si tua
Si tua duduk di bangku reot berhadapan dengan sang emak. Tidak ada yang anggota keluarga yang lain, karena memang hidup berdua setelah sang bapak telah berpulang beberapa tahun yang lalu.
Si tua menceritakan segalanya dengan lugas dan terbuka, sedang sang emak mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali sang emak melengak kaget dan heran, anak satu-satunya itu mendapat kepercayaan untuk mengikuti sayembara yang fenomenal ini.
“Kamu sungguh beruntung nak…” komen sang emak setelah si tua menyelesaikan ceritanya.
“Bagaimana menurut emak?”
“Kamu harus ikut Nak, Jangan sia-sia kan kepercayaan yang telah ndoro Google berikan,” ujar emak menasehati.
“Tapi mak…”
“Tapi apaan? Nggak ada tapi-tapian. Kamu kudu ikut anakku,” potong sang emak sambil bangkit dari duduknya.
“Mau kemana mak?” tanya si tua melihat emaknya beranjak menuju pintu.
“Tunggu sebentar, emak mau ke rumah tetangga dulu,” jawab emak.
“Untuk apa mak?”
“Pinjam uang, untuk membelikanmu kapak yang baru.”
“Nggak usah mak,” cegah si tua. “aku pakai kapak yang lama saja.”
“Tapi kapak itu sudah tumpul nak, kamu tidak akan menang menggunakan kapak usang itu,” bantah sang emak.
“Mak, yang aku butuhkan hanya restu dan doa dari emak,” tutur si tua sembari mengajak emaknya kembali duduk. “Aku akan asah kapak itu setiap hari, Insya Alloh, pada saatnya nanti, kapak itu kembali tajam seperti saat pertama dia diciptakan”
Sang emak masih bimbang.
“Percayalah mak…, sekarang doa kan saja anakmu ini mak,” pinta si tua meyakinkan.
Akhirnya sang emak menyerah. Lalu mereka berdua terbenam dalam doa-doa sang emak.
Aihh…, maaf sahabat ku sayang, faza ngelantur lagi… jadi panjang sekali euy… dan belum sampai pesan moralnya. Susah bener bikin cerita ringan yang nggak ngelantur kemana-mana…
cu….
Silahkan baca juga artikel terkait:







Comments