Sahabat Sejati ku itu bernama Tole (maaf, bukan nama sebenarnya). Aku mengenalnya pada saat innagurasi di kampus. Kita sama-sama mahasiswa baru waktu itu. Kesan pertama, dia tuh dekil, kumel en sebangsanya. Pokoknya ndeso abisss. Apalagi logatnya, hihihi…. medhoknya ga ketulungan. Biarpun sama-sama dari Jawa Tengah, aku sih masih jauh mendingan di banding dia. Mungkin karena aku berasal dari kota yang lebih besar dibanding kotanya.

Tak ada yang istimewa dari sahabat ku itu, cuma memang kebaikan en ketulusan hatinya udah keliat waktu masa-masa ospek di fakultas dulu. Dia rela menyerahkan tugas yang dia kerjakan semaleman, hanya untuk menyelamatkan teman yang hasil tugasnya tidak sesuai dengan perintah dari para senior. Sebagai gantinya, makian dan hukuman menjadi sarapan pagi buat kawanku itu. Waktu aku tanya kenapa dia berbuat seperti itu, dia malah cengengesan. “ Anggep aja ibadah en olah raga,” begitu jawabnya dengan ringan.

Setelah masa ospek selesai, aku nyaris kehilangan kontak dengannya, karena memang kita satu fakultas cuma beda bidang studi. Ternyata sudah ada 2 – 3 organisasi dia jabani sekaligus. Di luar kampus? Aku ga pernah menemukannya di tempat tongkrongan mahasiswa pada umumnya. Main ke kost-annya? Males banget. Sahabat ku tuh nge-kost di rumah penduduk yang jarak tempuhnya 1.5 – 2 jam dengan jalan kaki. Sampe akhirnya aku denger kabar, kalo dia tuh satu-satunya mahasiswa jalur UMPTN yang bisa nembus 5 besar pararel fakultasku. Ckckck… aku aja yang udah belajar setengah mati cuma dapet 2 koma lebihnya pun juga ga banyak. Hehehe…

Menginjak semester 3, aku makin kehilangan kontak dengannya. Sampe di suatu malem, dia nongol ke kost-an ku. “Boleh numpang tidur…? kalo boleh sekitar 3  malem,” tanyanya sambil cengar-cengir. Aku bengong sesaat tapi tak urung ku persilahkan juga.Waktu aku tanya kenapa, jawabannya cuma di usir sama ibu kost. Dan memang dia cuma nginep selama 3 malem. Setelah itu entahlah, dia seperti ilang di telan bumi. Tapi aku tau pasti, dia masih rajin kuliah. Dua minggu kemudian, dia dateng kembali, lengkap dengan tas ransel butut dan tas barang yang ga kalah bututnya. “Boleh nginep lagi…?” pintanya.

Selidik punya selidik, ternyata sahabat ku itu sudah tidak menerima kiriman uang dari ortu nya di kampung. Setiap ada kiriman, selalu dikembalikan. Info ini aku dapet dari mahasiswa yang satu kampung dengannya. Tempat kost juga dia tidak punya lagi.  Jadi sahabat ku selalu berpindah tempat, sekian malam di kost-an nya si A, Lalu lanjut ke kost-an nya si B.  Kadang juga dia tidur di masjid kampus.

Hingga suatu malem, aku berhasil membuatnya tidak dapat mengelak lagi. Dan akhirnya sahabat ku itu bercerita banyak tentang hidupnya selama ini.

Aku kembalikan kiriman uang dari kampung,” tuturnya mengawali cerita, “Mereka jauh labih membutuhkan. Adikku sebentar lagi lulus SMA dan akan kuliah.” Aku tercenung mendengar penjelasannya.

Kamu kenal Rudi?” dia balik bertanya dan aku mengangguk. “Aku dagang pakaian punya om nya dia. Setiap ada waktu or ada pesenen, aku drop barang ke pasar-pasar, kadang ada juga yang aku ecer ke temen-temen mahasiswa.” Aku membelalakkan mata mendengar penjelasannya itu.

“Senin sampe sabtu aku ngajar private. Anak-anak smp dan sma,” lanjut Tole membuatku makin tak percaya.

“Tapi kamu kan dapet beasiswa?” tanyaku lagi penasaran.

Dia tertawa, “Coba tebak, aku dapet berapa beasiswa?” tanyanya.

Dengan yakin aku jawab satu. Karena memang di kampusku ada kebijakan satu mahasiswa – satu beasiswa. Dan sahabat ku itu kembali tertawa berderai.

“Salah besar… Aku dapet…,” jelasnya sambil mengacungkan kelima jarinya tepat di jidatku.

“What’s… Gimana bisa?” tanyaku ga percaya. Dia mengangguk pasti.

“Dua dari kampus dan 3 dari luar kampus, ”jelasnya lagi. “Semua aku kirim ke kampung. Lumayan buat bantu-bantu rumah. Makanya aku harus kerja untuk bertahan disini,”ucapnya sambil merebahkan badannya di matras hitam yang selama ini menjadi alas tidurnya.

Aku pun turut berbaring, tapi bukan di matrasnya, karena cuma cukup untuk satu orang aja. Banyak tanya sekaligus kekaguman memenuhi kepalaku.

“trus.. kapan kamu istirahatnya…?” tanyaku lirih.

“Sebentar lagi…waktu tidur”

“Refreshingnya…?” kejarku lagi. Dia tertawa tertawa lirih,  selirih suaraku.

“Waktu sholat coy…Kapan lagi…?”

Aku terdiam. Lama aku merenung. Detak jam di dinding dan dengkur pelannya mengiring perenunganku semakin dalam. Malam itu banyak hal yang aku dapat dari sosok yang kini telah pulas. Aku tatapi wajah damai itu lama. Baru sekarang aku melihat sisi lain dari sahabat ku itu. Ku lirik jam dinding, pukul 03,00. Hhh…, berarti tole cuma istirahat 1,5 jam. Sebentar lagi sahabat ku itu akan bangun, trus berangkat ke masjid untuk adzan subuh. Shubahanalloh…

********* bersambung… *********