Semester 5 telah berlalu tanpa ada perubahan yang berarti pada diri sahabat ku itu. Perubahan justru banyak terjadi pada diriku. Aku makin menghargai apa yang kita sebut dengan uang. Kongkow-kongkow yang ga jelas merosot drastis.
Dan satu lagi, urusan shodaqoh, hehehe…. Ada satu kejadian yang pernah membuat aku geleng2 kepala terhadap Tole. Ceritanya gini…
Waktu itu sepulang dari kampus, kita rencana mo beli nasi buat makan malam. Sesampainya di Warteg favorit, ada pengemis yang mondar-mandir berjuang untuk mendapatkan sumbangan. Wajah menghiba dari si Ibu tua dan rengek si bocah kecil yang digendong tidak membuat para pembeli terketuk hatinya, hanya pemilik warteg aja yang memberikan beberapa keping uang receh. Sampe akhirnya, tibalah si nenek di hadapan kami. Dengan wajah penuh harap dia menengadahkan tangan. Sahabat ku itu tersenyum dan bertanya, “nenek sudah makan?” dan si pengemis tua itu menggeleng.
“Bentar ya, nek…,” ujar Tole.
Dan dia menambahkan beberapa menu dan dua bungkus teh manis di pesanannya. Setelah selesai, diangsurkannya bungkus makanan itu, “Untuk nenek….”
Si pengemis tua tidak langsung menerima, ragu-ragu dia menatap Tole.
“Iya, ini untuk nenek dan cucu…,” kata Tole meyakinkan.
Dan sekejap kemudian, entah berapa kali, ku dengar nenek itu mengucapkan terima kasih kepada sahabatku itu. Kemudian bla bla bla… sederet do’a aku dengar dipanjatkan oleh pengemis itu. Yang lebih aneh lagi, ku lihat bibir sahabat ku itu turut komat-kamit mengucap Amien… Amieen…, sampe pengemis itu menyelesaikan Do’a nya.
Setelah pengemis itu pergi, dia juga mengajakku pulang.
“Lho…, ga pesen lagi?” tanyaku heran.
“Duitku abiss…,” bisiknya sambil menyeretku untuk bergegas meninggalkan warteg itu.
“Aku traktir…” aku segera menawarkan diri.
“Ga usah. Aku udah makan waktu rapat tadi,” tolaknya.
Sepanjang jalan, aku berdebat dengannya. Karena menurutku, apa yang dia lakukan sangatlah tidak logis. Uang terakhir kok malah dikasihkan ke orang yang jelas. Aku juga mengingatkan dia bahwa banyak pengemis yang sebenarnya bukan orang miskin, cuma mereka menjadikan mengemis sebagai satu profesi.
“Darimana kamu tau, kalo nenek tadi bagian dari mereka…?” sanggahnya.
“Aku nggak tau pasti, tapi memang banyak kok yang yang seperti itu.”
“Aku tau, tapi kita kan ngga pernah tau, mana yang seperti itu dan mana yang bener-bener pengemis?”
Aku mengangguk setuju.
“Za…, kalo mo beramal itu nggak perlu banyak pertimbangan. Yang penting, kalo kita liat, orang itu membutuh bantuan kita, ya kita bantu. Masalah orang itu pura-pura atau tidak, itu udah bukan urusan kita lagi. Alloh ga melihat siapa yang kita bantu atau seberapa besar bantuan kita. Tapi yang dilihat, cuma ikhlas or tidaknya kita dalam beramal.”
Skak Mat! Aku bungkam, apapun argumenku, jelas akan mentah dengan jawaban seperti itu.
“Trus… makan malemmu…?”
Tole malah tertawa kecil, “Sante aja…, kalo Alloh menakdirkan aku makan malam ini, aku pasti makan. Kalo pun tidak, aku pasti kuat, biarpun rada kelaperan seh. Apalagi besok aku kan gajian. Hehehe….”
Sore berlalu begitu saja. Selepas maghrib, ada kejadian yang luar biasa yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Pak RT dan anaknya datang membawa 2 nampan besar berisi makanan. Untuk Tole katanya. Ada ayam goreng, gurame goreng, gulai kambing, lalap en sebakul nasi. Dan jadilah malam itu, seisi kost-an pesta besar. Dan sahabat ku itu cuma mengedipkan mata sewaktu aku memandangnya dengan tatapan bingung. Di kedipan matanya itu, dia seolah berkata “Kalo rizqi itu tidak akan kemana dan Alloh tidak akan pernah lalai pada hamba-hambanya…..”
********** bersambung **********







Comments