Semester 6, Tole punya kesibukan baru. Jaga Rental Komputer. Sahabat ku itu jadi jarang kluyuran cari tumpangan untuk melewatkan malam. Soale di tempat rentalnya, ada kamar kosong yang bisa dia tempati.
Semester 7, Sahabat ku itu mulai penelitian. Gilee…. kok bisa? Padahal ada beberapa prosedur yang harus dia lewati sebelum ambil penelitian. Mungkin aja dia memanfaatkan kedekatannya dengan para petinggi kampus. Bukankah dia aktivis kampus yang memiliki hubungan baik dengan beliau-beliau itu. Tapi yang paling membuat aku heran, bagaimana cara dia membagi waktu? Ngajar, dagang, organisasi, jaga rental, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Di semester itu pulalah, terbongkar lagi satu rahasia Tole.
Waktu itu, aku iseng ngerental di tempat Sahabat ku itu bekerja. Sekitar satu jam aku ngerental di sana. Dan selanjutnya ngobrol-lah kita. Selama berbincang itu, aku baru sadar, kalo wajahnya agak pucat dan beberapa kali ku liat dia memijit kepalanya. Sampe akhirnya, dia meminta bantuanku untuk menjaga rental karena dia mau istirahat sebentar.
Dan baru beberapa langkah Sahabat ku itu berjalan menuju kamar, brukkk… Dia terkapar di lantai. Kontan aja kami (Aku dan para user) berhamburan melihat kondisi Tole. Kami gotong tubuh pucat itu masuk ke dalam kamar. Setelah yang lain keluar, sebisanya aku berusaha menyadarkan sobatku itu.
Tanpa sengaja mataku tertumbuk pada beberapa botol obat di dalam tas ransel Sahabat ku itu yang terbuka. Aku ambil obat itu dan ternyata di bawahnya ada sebuah amplop dengan tulisan RS Darmais. Dengan penuh heran dan rasa ingin tau, aku buka dan …. Astaghfirullah… Botol dan kertas yang aku pegang sampe terjatuh saking kagetnya. KANKER OTAK stadiumnya… entahlah… Aku ga berani lagi memegang kertas itu.
Lama aku tercenung. Satu kenyataan yang sungguh memukul hati ini. Waktu itu, aku hanya diam. Kesadaranku terbang dan terhempas ke dasar kesedihan. Sampe akhirnya, sebuah sentuhan di bahu menyadarkan aku kembali.
“Kamu sudah tau…?” tanya Tole yang dengan lemah bersandar di dinding.
Aku mengusap air mataku yang nyaris tumpah. “Sejak kapan…?”
“Beberapa bulan lalu,” jawabnya masih dengan senyum penuh kepasrahan. “Sudah… ga usah dipikir, mungkin emang harus gitu jalannya.”
“Ga dipikir gimana? Kamu sakit separah ini kok ga bilang2,” bantahku emosi.
“Trus kalo aku bilang ke kamu, ke semua orang, ke seluruh dunia tujuannya buat apa, Za. Paling-paling kalian akan mengasihaniku.”
“Ya, paling ga, aku bisa bantu kamu, Le…”
Sahabat ku itu menarik nafas panjang, “Itu yang aku tidak mau, Za. Aku tidak mau dikasihani.”
“Tapi aku kan temenmu…”
Dia memegang bahuku. “Kamu yang terbaik, Za. Jadi tolong, jangan sampe ada orang lain tau, oke…” Dan aku mengangguk lemah.
“Orang tuamu…?”
“Mereka juga tidak boleh tau.”
Dan akhirnya kenyataan pahit itu menjadi rahasia besar kami. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Aku berusaha selalu ada bersamanya, membantu dan mendampinginya. Ketegarannya benar-benar merampas seluruh rasa kagumku. Semangatnya sungguh memukau hatiku.
Dan Tole berhasil. Sahabat ku itu berhasil lulus kuliah tanpa seorangpun tau tentang penyakitnya (kecuali aku dan para dokter). Setahun kemudian, dia pun berhasil membawa adiknya menjadi sarjana. Setengah tahun berikutnya, Alloh memanggilnya. Aku yakin, kematiannya bukan karena dia lelah berjuang untuk hidup, tetapi karena Alloh telah menyiapkan tempat terbaik untuknya.
Selamat jalan Sahabat ku. Terima kasih telah mengijinkanku tuk mengenalmu hingga aku bisa belajar tentang bagaimana seharusnya hidup. Bukan dengan teori seperti yang banyak berserakan di buku-buku atau ceramah menjemukan yang kerap membuat pusing kepalaku. Tapi engkau mengajari hidup dengan kehidupan itu sendiri. Terima kasih dan selamat jalan Karang Rapuh – ku.
******* Terima kasih ya, De… *******







Comments