Suatu siang di Bantar Gebang.
Seorang bocah berjongkok, mengais-ngais tumpukan sampah yang baru saja longsor. Memang tidak sehebat longsoran sampah yang pernah menjadi berita utama di koran-koran beberapa waktu lalu, tapi sudah cukup untuk menelan tubuh seorang wanita kerempeng yang tengah sibuk memunguti sampah di bawahnya.
Bocah itu terus mencari bentuk utuh dari tangan ibunya yang mencuat di antara reruntuhan sampah. Pakaian dan baju bocah itu kotor, campuran sampah dan air mata. Ia menangis, tapi terus menggali dan mengais dengan kedua tangan mungilnya. Berharap bisa menemukan tatapan kasih sayang dari sepasang mata wanita yang melahirkannya.
“Ibu… Ibu…” Tangan itu terbebas sudah, lalu bahu dan leher, kemudian kepala dan yang terakhir wajah ibunda tercinta.
“Ibu… Ibu… Bangun ibu…” bisiknya lirih. Bocah berusia enam tahun itu tersenyum lebar, disusutnya air mata yang tak henti berlarian menuruni pipi tirusnya. Di usap-usapnya wajah dan rambut sang ibu yang masih setengah terkubur oleh tumpukan sampah. Diciuminya dahi, mata dan pipi ibu nya.
Sebentar lagi ibu nya akan bangun, lalu mendekapnya dengan erat. Satu ritual yang selalu dilakukan ibu nya sesaat setelah bangun dari tidur bila dirinya terjaga terlebih dahulu.
“Ibu… Bangun ibu... Ibu…” Ah, aku harus sabar. Mungkin ibu terlalu capek, bisik hati bocah kecil itu. Sebentar lagi, ibu akan membuka mata, bangun dan mendekapnya seperti biasa. Ya, sebentar lagi….
Siang hari, sehari sebelum longsor terjadi.
“Ibu…”, sesosok bocah laki-laki berlari lincah di antara tumpukan sampah yang terhampar. Seragam putih merahnya nampak demikian mencolok diantara kusamnya sampah-sampah disekitarnya. Seorang wanita setengah baya menoleh dan tersenyum, menanti sang buah hati mendekat.
“Dah pulang, Le? Gimana sekolahmu hari ini,” tanya wanita itu. Dia mengulurkan tangan yang segera disambut sang bocah dengan menciumnya takzim.
Si bocah tersenyum dan mengeluarkan selembar kertas dari tas bututnya. “Liat, bu, aku depet nilai seratus,” pamer si bocah dengan bangganya.
Si ibu tersenyum lebar, nampak sisa-sisa kecantikan yang terselubung gurat kelelahan.
“Anak pintar…,” pujinya sambil mengusap lembut kepala anaknya. “Sudah, ganti baju dulu, sana. Terus sholat dzuhur. Ibu belikan makanan dulu.”
Si bocah mengangguk, mencium tangan ibu nya sekali lagi, terus berlari kecil menuju istana kardusnya yang berdiri rapuh tak jauh dari tempat itu. Dan wanita separuh baya itu beranjak pergi, menuju warung nasi yang sudah menjadi langganannya selama ini.
“Sudah sholat, Le..?”
“Sudah, bu,” jawab bocah laki-laki itu sambil melepas peci yang dia temukan beberapa minggu lalu di onggokan sampah tak jauh dari rumahnya. Sang ibu mengeluarkan sebungkus nasi, kemudian dibukanya.
“Le…, makan dulu. Mumpung nasi dan tempenya masih anget.”
“Lho, ibu nggak makan?”
Wanita itu tersenyum, “Sudah, kamu makan aja. Ibu masih kenyang,” tolaknya.
Hanya sekilas Tole menatap wajah ibu nya, nasi anget dan seiris tempe sudah begitu mengundang selera.
“Le, ibu kerja lagi ya,” tutur perempuan itu sembari bangkit berdiri.
“Hati-hati, bu, nanti aku mo mulung di sebelah utara,” kata Tole dengan mulut penuh makanan. “Kata si Budi, di situ banyak barang bagusnya.”
“Ya, kamu juga ati-ati. Jangan pulang terlalu sore, besok kamu harus sekolah,” jawab sang ibu sambil menutup pintu.
Petang sebelum longsor terjadi, di istana kardus.
“Baru pulang, Le?” sebuah suara yang sudah sangat dikenal menyambut kepulangan Tole.
“Iya, bu. Tadi banyak botol dan kaleng. Sampe dapet 3 karung, Bu.”
“Syukurlah, taruh aja di situ, biar nanti ibu yang beresin. Sekarang maghrib-an dulu gih, trus kita makan bareng.”
Selesai sholat, mereka duduk berhadapan. Di depannya terdapat 2 bungkus nasi dan segelas air putih.
“Ibu kok cuma sama tempe, ini ikannya buat ibu aja,”
“Buat kamu aja, Le, ibu nggak suka ikan.”
Tole menatap ibu nya lama. Hatinya merasa nggak enak karena sang ibu selalu memberi yang terbaik untuknya.
“Ayo makan, abis ini kita beresin hasil kerjamu hari ini”
Malam sebelum longsor terjadi, di istana kardus.
“Sudah, bu. Biar Tole yang teruskan. Ibu istirahat aja,” saran Tole tidak tega melihat ibu nya yang sudah nampak kepayahan.
“Ibu belum capek, Le. Kamu yang istirahat sana. Besok kamu harus sekolah.”
Pagi Sebelum longsor terjadi, di depan istana kardus.
Tole sudah siap dengan seragam putih merahnya. Tas butut sudah hinggap di punggung bocah laki-laki itu.
“Bu,aku berangkat dulu, ya,” pamit bocah itu pada sang ibu. Si ibu tersenyum mengangguk.
Seperti biasa, setelah mencium tangan ibu nya, si Tole melenggang dengan langkah ringan menuju sekolah. Namun, kali ini langkahnya tertahan. Didengarnya sang ibu memanggil kembali. Dia menoleh dan melihat ibu nya melambai, memintanya tuk kembali.
“Ada apa, bu?” tanyanya heran setelah sampai di hadapan ibunya.
Tiba-tiba sang ibu menubruknya, mendekapnya sangat erat. Lebih erat dari yang sebelumnya.
“Kenapa, bu?” tanyanya lagi dengan polos. Tergagap sang ibu melepaskan pelukannya.
“Nggak…Ngak apa-apa. Tolong serahin uang ini ke gurumu ya,” ibu mengangsurkan beberapa lembar uang.
“Itu cukup untuk SPP mu sampe 5 bulan ke depan,” pinta ibu nya sambil tersenyum.
“Tapi, bu…”
“Sudah berangkat sana, jangan sampe telat,” perintah sang ibu.
Dan dengan menyimpan rasa heran, bocah cilik itu melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Sebuah siang, sesaat sebelum longsor.
“Ibu…”, panggil Tole dari kejauhan ketika dia melihat ibu nya tengah sibuk mencari barang-barang berharga di antara tumpukan sampah. Seorang wanita setengah baya itu menoleh dan tersenyum, menanti sang buah hati mendekat.
“Ibu, Awassss……” teriak bocah cilik itu saat melihat onggokan sampah yang membukit di atas ibunya berderak-derak.
Dia berlari. Kaki mungilnya bergerak secepat mungkin untuk menyelamatkan ibunda tercinta. Namun terlambat. Longsor itu terlanjur menelan tubuh ringkih sang ibu, bahkan menyeret tubuh kecilnya kembali ke bawah.
Sebuah siang, sesaat setelah longsor terjadi.
“Ibu... Ibu...,” panggil Tole sembari terus mendaki sisa-sisa longsoran sampah. Dia terus mencari hingga menemukan sebuah tangan yang mencuat di sela-sela timbunan sampah. Dia terus menggali dan mengais.
“Ibu… Bangun, Bu…. Bangun…”
Dan dunia tiba-tiba gelap, kesadaran bahwa ibu nya tidak akan pernah membuka mata lagi, bahwa sepasang mata penuh cinta itu tidak akan pernah lagi menatapnya dengan kasih sayang menghantam kesadarannya bagai hantaman palu godam. Tidak akan ada lagi pelukan hangat yang membuatnya merasa tenang dan aman.
Samar bocah cilik itu melihat tubuh ibu nya digotong beramai-ramai. Diambang kesadarannya dia melihat ibu nya tersenyum. Kebohongan-kebohongan ibunda tercinta melintas dengan jelas.
Bocah lelaki itu tahu ibu nya ber bohong saat dia bilang tidak lapar, karena memang uang yang ada hanya cukup untuk membeli sebungkus makanan. Dia tahu saat ibu nya bilang tidak suka ikan, karena ibu ingin anaknya mendapatkan makanan yang lebih bergizi. Dan dia tahu saat ibu nya bilang belum capek, karena ibu ingin anaknya bisa istirahat lebih awal.
“Ibuuuuu…,” wanita setengah baya itu menoleh, tersenyum, kemudian beranjak pergi.
“Ibuuuuu…….”
Dan kali ini, ibu terkasihnya itu tak menoleh lagi. Langkahnya perlahan menjauh pergi dan hilang di tumpukan sampah yang membukit.
“Ibuuuuuuuuuu…..”
Dan dunia benar-benar gelap!!!
Silahkan baca juga artikel terkait:







Comments