Rumah ku sayang, rumah ku malang. Ku pandangi puing-puing itu dengan tatapan kosong. Hhh…, Habis semua. Rumah yang begitu aku banggakan bak istana itu dalam sekejap rata dengan tanah. Ya, rumah ku dan dua rumah di kanan-kiri nya turut hancur akibat gempa bumi dua hari yang lalu.

Isak isteriku masih terdengar lirih di sampingku, begitu juga dengan tangis anak-anakku dalam dekapan ibunya.

Ku hampiri mereka, ku rengkuh dalam pelukanku. Erat! Dalam dekapan itu, ku coba menguatkan jiwa mereka seperti aku telah berusaha menguatkan hati ini. Ku coba mengatakan, bahwa kita masih sangat beruntung, karena kita sekeluarga masih selamat dalam musibah itu.

Ya, sesaat setelah kami sekeluarga berhamburan keluar rumah, brugghh…, rumah ku itu rubuh.

Namaku Surip, seorang petani yang terbilang sukses di kampung Argo Makmur ini. Dahulu, aku dan keluarga ku adalah keluarga sederhana yang menjalani hidup apa adanya. Kendati idup pas-pasan, kebahagiaan senantiasa melingkupi kami, karena memang kami berusaha mensyukuri apapun yang Alloh anugerahkan. Sholat berjama’ah di masjid dekat rumah tiada pernah kami ketinggalan. Infak, shodaqoh en zakat tak pernah terlupakan.

Hingga aku membuat pertaruhan gila dengan seorang kawan, dua tahun yang lalu. Kami berdua sepakat untuk berlomba menjadi orang terkaya di kampung ini. Tak ada yang dipertaruhkan, hanya nama baik dan harga diri, serta sebuah pengakuan di hadapan orang kampung bahwa yang kalah mengakui kekayaan sang pemenang.

Kerjaku makin menggila saja dan semua memang berjalan seperti yang diharapkan. Panen melimpah dengan harga jual yang tinggi. Membuat kemenangan itu sudah membayang di pelupuk mata.

Dan puncaknya adalah pembangunan rumah itu. Proyek kilat itu hanya membutuhkan waktu 3 bulan. Rumah yang tadinya sangat biasa-biasa saja aku sulap menjadi istana megah, lengkap dengan perabotannya. Tidak puas dengan satu lantai, aku tinggikan istana itu menjadi 3 lantai. Garasi yang muat 2 mobil sudah terisi satu, tinggal satu mobil lagi yang akan aku beli selepas musim panen ini.

Akhirnya tujuanku tercapai. Aku menjadi orang terkaya di kampung ini. Setelah secara resmi, kawanku itu mengakui kekalahannya. Ya, baru seminggu yang lalu dia mengibarkan bendera putih padaku.

“Sudah, tak perlu dipikirkan lagi,” sebuah tepukan di pundak membuyarkan lamunanku. Ustadz Abdillah tiba-tiba saja sudah ada di sampingku.

Aku menghela nafas panjang. Sudah tak kudapati istri dan anak-anakku.

“Mereka sudah di ajak pulang sama ibu,” jelasnya seolah mengerti isi benakku.

Aihh, betapa aku telah melamun terlalu dalam, hingga kepergian keluargaku dan kedatangan ustadz Abdillah luput dari perhatianku.

Aku yang menyuruh mereka, karena sepertinya ada yang perlu kita diskusikan,” sambungnya menerangkan.

Aku menurut, waktu dia mengajakku duduk di bawah pohon beringin di deket puing-puing rumahku itu. Memang, sejak musibah itu, aku dan keluarga menumpang di rumah ustadz itu. Dia memang sudah seperti bapak buatku dan keluargaku.

“Kenapa aku, pak?” tanyaku masih tak mengerti. Mengapa hanya rumah ku dan tetanggaku saja yang lantak dengan tanah.

“Karena Alloh masih menyayangimu, Rip.”

Jawaban itu membuatku menoleh seketika. Tatapan mataku menyiratkan sejuta tanda tanya.

“Alloh mengingatkan dirimu, anakku. Kau telah terlalu jauh melenceng dari jalanmu seharusnya,” tuturnya sabar.

“Melenceng bagaimana, pak. Aku masih sholat. Aku masih beramal, malah lebih banyak dari biasanya,” bantahku sengit. Aku memang masih belum bisa menerima kenyataan ini.

“Betul anakku, kamu memang masih rajin sholat, tapi sudah tidak sempat berjamaah di masjid kan? Kamu terlalu sibuk mengurusi sawahmu yang semakin bertebaran dimana-mana.  Kamu memang masih rajin beramal, tapi bukan dengan keikhlasan. Kamu masih membagi-bagikan beras, tapi dengan mengundang orang-orang ke rumah mu, kan? Bukankah dulu engkau membagikannya dengan meminta bantuan remaja masjid, dengan berpesan agar tidak perlu disampaikan siapa sebenarnya pemilik beras itu. Kamu memang memberikan bantuan yang sangat besar untuk pembangunan masjid, tapi bukankah engkau meminta namamu di sebut-sebut waktu penutupan proyek pemugaran masjid itu?”

Aku terdiam. Semuanya memang benar dan tergambar jelas di mataku. Hhh…, Ya, Alloh, mungkinkah aku telah sombong di hadapan-Mu? tanyaku dalam hati.  Ya, tiba-tiba satu kesadaran menyeruak, menelanjangi segala dosa dan kesombongan yang telah aku perbuat.  Perlahan mataku mulai berkaca-kaca.

“Anakku, Alloh masih menyayangimu. Yang terjadi padamu adalah peringatan dari-Nya. Agar engkau sadar dan bertaubat.”

Aku menangis. Semua yang dikatakan ustadz Abdillah menampar hati dan kesadaranku.

Aku memang salah, pak. Aku sudah riya’. Kesombongan telah membutakan mata hatiku,” pengakuan jujur mengalir begitu saja dari dasar hatiku yang terdalam.

“Lalu aku harus bagaimana, pak?”

Lelaki tua bersorban itu tersenyum. “Syukurlah, kalo engkau sudah sadar, anakku. Sekarang engkau harus perbaiki semuanya.”

“Baik, pak. Aku berjanji akan kembali seperti dulu lagi.”

Lalu senyap. Ustadz Abdillah hanya memandangku dengan penuh rasa syukur. Aku juga terdiam, mencoba berpikir apa yang akan aku lakukan untuk menebus dosa-dosaku itu.

“Lalu, rencanamu selanjutnya bagaimana, Rip?”

Aku menarik napas berulang-ulang, meyakinkan sekaligus menetapkan hati ini untuk apa yang hendak aku lakukan.

“Insya Alloh, aku akan jual sawahku yang di utara desa itu, pak. Akan ku bangun kembali rumah ku, sederhana saja, pak. Aku juga akan membangun kembali rumah si Sanip dan si Ujib, yang turut menjadi korban dari dosa-dosaku,” jawabku lantang dan pasti.

“Subhanalloh…, sungguh tepat rencanamu itu anakku. Mudah-mudahan Alloh mengampuni segala dosamu dan menggantinya dengan pahala yang berlipat-lipat.”

“Amieen…!,”

Ustadz Abdillah bangkit berdiri, mengulurkan tangan kepadaku.

“Ayo, pulang, secepatnya kau sampaikan rencana itu pada keluargamu,” ajaknya dan segera ku sambut dengan penuh semangat.

Sepanjang jalan, hatiku beristighfar tiada henti. Langkahku terasa ringan. Lenyap sudah kedukaan ini. Telah sirna rasa kehilangan dan kekecewaan akan rubuhnya istana kebanggaanku itu.

“Ya, Alloh, ampuni segala dosa hamba-Mu yang hina ini. Terima kasih, Ya, Rabb, Engkau masih memberi kesempatan bagi hamba, istri hamba dan anak-anak hamba untuk bertaubat. Terima kasih, Engkau telah mengingatkan hamba dengan hanya mengambil sebagian harta ini. Terima kasih, Engkau masih bermurah hati mempercayakan sebagian yang lain untuk menebus dan memperbaiki dosa-dosa ini. Ya, Alloh, bimbinglah kami untuk senantiasa berada di jalan-Mu yang lurus, bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai. Amieen…!”