Lelaki muda itu terdiam. Duduk memeluk lutut di teras rumahnya yang sederhana. Ada luka yang terpancar dari sorot mata yang kosong itu.
Angin malam yang berhembus dingin, tak menggoyahkan posisi duduknya sama sekali. Kelamnya malam, juga tak mampu halangi pandangan matanya yang menyapa bulan dan bintang yang berpendar malu-malu di angkasa raya.
Ya, lelaki muda itu tengah terluka. Jiwanya tercabik oleh dunia yang makin tak dikenalnya. Separuh jiwanya menyalahkan orang-orang di sekitar yang telah kehilangan nurani. Sifat serakah sudah menjadi raja hingga tiada tersisa kesadaran tuk berbuat yang tak tercela. Tiada lagi rasa tanggung jawab dan kepedulian resiko berapa nyawa terancam atas perbuatan curangnya.
Namanya Prasetya, seorang pemuda yang sudah empat tahun ini mengabdikan diri untuk membangun gedung-gedung di sebuah perusahaan kontraktor ternama. Jenjang kariernya terbilang sangat baik, karena selain cerdas dan terampil, dia juga bekerja dengan hati. Dia dapat memimpin anak buahnya untuk menyelesaikan proyek-proyek yang mereka dapatkan dengan kualitas hasil yang sangat prima.
Pendek kata, dia adalah seorang pimpinan ideal untuk semua proyek pembangunan. Namun pengabdiannya harus terputus di tengah jalan. Hanya karena perbedaan pandangan dan prinsip kerja dengan big bos tempat dia bekerja.
“Ayolah.., Pras, kau kerjakan saja proyek ini,” bujuk sang big bos.
Prasetya tidak bergeming, matanya nyalang menatap sosok lelaki gendut di hadapannya.
“Saya akan kerjakan, pak. Tapi dengan komposisi sebenarnya,” tantang pemuda itu sembari mengajukan syarat.
“Pengurangan semen segitu tak akan banyak pengaruhnya, Pras,” sang big bos masih membujuk. Pras menggeleng dengan tegas.
“Ok, aku naikkan gaji kamu dua kali lipat, bagaimana?” rayu big bos belum menyerah.
Pras tersenyum, “Seperti ini aja, pak. Silahkan bapak potong gaji saya seperempatnya, tapi kita kerjakan proyek ini sebagaimana mestinya.”
“Ya, nggak bisa gitu, Pras,” tutur sang big bos dengan nada rendah. “Coba kamu pikir, sudah berapa uang yang harus kita keluarkan untuk mendapatkan tender ini. Darimana kita dapat pengganti dana itu, bila tidak dari sini,” sambungnya lagi.
“Maaf, pak. Saya tidak bisa. Silahkan bapak suruh orang lain saja.”
Sang big bos menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Ya, nggak bisa juga Pras, semua proyek yang kita kerjakan harus melalui dirimu, karena kamu pimpinan proyek di sini.”
Prasetya termenung. Dia lupa, bahwa dia sekarang sudah jadi pimpinan proyek di tempatnya bekerja. Jadi memang tidak ada satu proyekpun yang akan dikerjakan tanpa persetujuan darinya.
“Baik, pak. Saya resign saja,” tutur pras menyerah. “Dari pada saya jadi penghambat di sini, Saya mundur saja, pak.”
“Tunggu dulu, Pras. Kamu jangan ngambil jalan pintas seperti itu. Tolong pikir masak-masak dulu. Masa depan kamu sangat cemerlang, pras. Aku malah sudah berencana kamu yang akan mengambil alih kekuasaanku setelah aku merasa terlalu tua untuk bekerja,” ucap big bos yang sekaligus owner itu.
“Tidak, pak. Saya tetep dengan pendirian saya. Kalo proyek ini tetep harus jalan sesuai dengan keinginan bapak, silahkan, tapi tanpa saya.” tutur pras mantap.
“Kalo boleh tahu, kenapa kamu sekukuh ini, Pras?” tanyanya.
“Saya takut dosa, pak,” jawaban Pras membuat sang big boss membelalakkan mata, lalu sekejap kemudian tawanya berderai memenuhi ruangan.
“Dosa? Hahaha…, kamu bilang dosa, Pras? Hahaha…”, ulang sang big boss tak percaya. “Urusan dosa, biar itu jadi tanggunganku Pras. Karena kamu cuma bekerja menurut perintah saya.”
Emosi pemuda itu terpancing.
“Sudahlah, pak. Saya resign saja. Saya sudah tahu rencana bapak, saya tahu kecurangan bapak. Jadi biar bagaimanapun saya akan turut menanggung beban dosa bila meneruskan proyek ini pak.”
Dan akhirnya, hari itu juga, Prasetya resmi mundur menyisakan tanya di hati para anak buahnya yang tidak tahu penyebab resign nya pimpinan mereka.
Sudah setahun, semenjak kejadian itu, Pras telah berganti tiga perusahaan kontraktor dan semuanya setali tiga uang. Kecurangan-kecurangan terjadi di sana-sini. Hingga akhirnya pemuda itu menyerah. Dia sudah tidak punya keinginan lagi untuk bekerja di bidang itu.
Ujian belum selesai, Lastri, gadis yang dicintainya sepenuh hati, juga turut pergi meninggalkannya. Perempuan cantik itu, goyah melihat Pras yang sekarang menganggur. Dia lebih memilih menikah dengan seorang cukong, bandar toge kelas wahid di negeri ini.
Lengkap sudah penderitaan Pras. Hampir saja dia menyalahkan Alloh yang telah menjawab do’a – do’a nya yang senantiasa dia panjatkan dengan cobaan-cobaan yang tidak berkesudahan.
Beruntung, dia memiliki keluarga yang selalu membesarkan hatinya. Beruntung dia memiliki bapak yang sangat bijaksana, yang tiada pernah putus memberinya wejangan-wejangan tentang kesejatian hidup. Beruntung dia juga memiliki ibu yang sangat istiqomah, yang sanggup menerima segalanya dengan lapang dada dan penuh tawakal.
“Pras, sudah subuh tuh, ke mesjid dulu,” suara ibu membangunkan pras dari lamunannya.
Tergagap pemuda itu, ketika suara adzan mengalun lembut di telinganya.
“Baik, bu,” Pras masuk kembali ke dalam rumah, mengambil sarung dan peci, lalu langkah terayun pasti menuju masjid tak jauh di ujung sana.
“Ya, Alloh…, ku tunggu bukti kebesaran-Mu di dalam hidupku,” demikian hatinya berucap berulang-ulang.
Di pelataran masjid, usai Prasetya menunaikan sholat subuh, seorang lelaki seumuran ayahnya, yang juga tetangga rumahnya, telah menunggu. Dan dia menyampaikan sebuah kabar gembira, bahwa dia memberi pemuda itu sebuah pekerjaan. Prasetya di beri amanah untuk mengawasi pembangunan rumah milik lelaki itu. Dan Prasetya menyanggupinya dengan penuh rasa syukur.
Tiga tahun kemudian, nasib Prasetya telah berubah. Pemuda itu telah memiliki perusahaan kontraktor sendiri. Perusahaan kontraktor yang tidak semata-mata mengejar keuntungan materi semata, tetapi perusahaan kontraktor yang memandang sebuah proyek adalah amanah yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Prasetya juga telah menikah dengan seorang wanita cantik, wanita yang jauh lebih cantik dari Lastri-nya yang dulu. Dan yang terpenting, wanita itu lebih sholehah dari Lastri-nya yang dulu.







Comments