“Apa yang kamu tunggu, bro..?” tanyaku.
Faza terdiam.
“Yaaa…, entahlah,” jawab Faza menggantung.
Aku melongo persis orang bego, “Lah, jawaban apa itu…?”
Tawa yang hampir keluar dari mulutku tertelan kembali. Aku lihat Faza tiba-tiba murung. Faza yang biasanya suka cengengesan tiba-tiba begitu pendiam. Keruh di wajahnya jelas terlihat nyata. Sahabat lamaku itu sedikit berubah.
“Sisil belum mau nikah?” tanyaku lagi memecah kebuntuan.
“Sisil..? Dia sudah ke laut 8 bulan lalu,” jelas Faza.
What’s…! Perasaan baru sekitar 10 bulan lalu lo cerita tentang sisal, pacarnya yang kesekian. Faza … Faza.. Kapan engkau akan berubah???
“Lah…, katanya dia yang terakhir?” tanyaku mengingatkan pembicaraan waktu itu.
Saat dia bercerita betapa cantiknya sisil, betapa baiknya gadis itu dan betapa-betapa lainnya. Hehehe…, sampe-sampe waktu itu aku membayangkan satu sosok gadis luar biasa, sosok bidadari yang sempurna, yang menyaingi kesempurnaan bidadariku.
“Ternyata dia nggak sesempurna yang aku kira?” jawab Faza singkat.
Aih, ternyata Faza mencari yang sempura, tho. Engkau mencari gadis yang luar biasa tanpa cela. Aihh.., sampai mati pun tak akan pernah engkau dapatkan, bro. Justru kelebihan dan kekurangan yang ada ada justru membuat manusia itu makhluk yang sempura (?), demikian komentarku dalam hati.
“Oooo…, terus sekarang kamu sama siapa?”
“Dina.”
“Dina? Bagaimana dia?”
“Dia baik, lebih baik dari Sisil,” jawab Faza.
“Cantik?” sebuah pertanyaan yang tak perlu dipertanyakan, karena aku sudah hapal betul dengan selera kawanku yang satu ini.
“Lebih cantik dari Sisil,” jawab Faza lagi.
“Sudah berapa lama?”
“Langsung jadian setelah aku melepas Sisil,” jelas Faza kembali.
Hhhmmm, ini baru yang namanya rekor. Sepanjang pengetahuanku, Sisil adalah perempuan yang bertahan paling lama, biasanya Cuma seminggu or maksimal dua minggu. Dan yang ini, sanggup bertahan sampe 8 bulan. Luar biasa…!
“Terus… dia belum mau menikah?”
Faza menghela nafas dalam-dalam lalu menjawab, “Justru dia minta itu, bahkan keluarganya juga.”
“Trus.. Apalagi masalahnya?” tanyaku penasaran.
Faza cuma beda setahun kebih muda dari aku. Jadi umurnya sudah lebih dari cukup untuk menikah.
“Aku masih takut membuat komitmen….” akhirnya Faza mengaku juga.
Sebuah alasan sudah lama aku duga.
“Kamu mencintainya?”
“Yup!,” jawabnya singkat.
“Cinta saja sudah cukup untuk membentuk komitmen pernikahan.”
“Aiihh…, bro…, kayak kamu nggak ngerti aku aja. Aku tuh ga bias ngeliat cewe cantik,”
Aku Cuma tertawa mendengar jawaban itu.
“Tapi sudah sekitar 8 bulanan kan kalian bisa bertahan kan?”
Faza mengangguk.
“Bukankah itu sudah cukup membuktikan kalo kamu juga bisa berkomitmen dalam urusan hati?”
“Yaa… mungkin karena aku belum ketemu cewe yang lebih dari dia?”
Hehehe… ada-ada aja alasan kawanku yang satu ini.
“Gampang itu. Kalo kamu ingin menjaga dari yang satu itu, kamu tinggal membutakan mata dan menulikan telinga untuk perempuan lain. Yang ada cuma Dina dan Dina,” tuturku memberikan satu tips untuk menjaga keutuhan rumah tangga.
“Emang bisa?” tanyanya lagi.
“Ya, tentu bisa bro…, dijamin garansi pabrik. Asal jangan kamu banting aja, garansi tidak berlaku,” kataku berusaha meyakinkah.
“Maksud loh..?!!!”
Tawa kami berderai sebelum kembali memasang wajah serius lagi.
“Aku takut mengecewakan dia?”
“Faza … Faza …,Itu juga gampang, kamu tinggal lakukan yang terbaik untuk dia, all out sebisa kamu. Tunjukkan bahwa kamu telah berjuang dengan sekuat tenaga untuk membahagiakannya. Masalah nantinya dia akan kecewa, tinggal pinter-pinternya kamu aja untuk memberinya pengertian. Tapi aku yakin, kalo dia bener-bener mencintaimu, tak peduli apapun yang terjadi nanti, dia akan tetap berbahagia cukup dengan melihat apa yang telah engkau usahakan. Bukan dari hasil yang engkau dapatkan, tapi dari perjuanganmu untuk membahagiakannya.”
Faza terdiam. Penjelasan panjangku sedang dicerna olehnya.
“Aku takut nggak bisa menafkahinya?” kembali Faza mengutarakan ketakutannya. “Hahaha…, nafkah lahir apa batin neh?” tanyaku menggoda Faza.
“Nafkah lahir dodol…!” Faza menonjok bahuku lemah.
“Hahaha… Itu lebih gampang lagi. Kamu tinggal bekerja keras aja dan berdo’a. Dan jangan lupa, istri juga membawa rizqi nya juga lho, bila kalian menikah, maka rizqi istrimu dan rizqimu akan menyatu juga kan?”
Yach.., seperti itulah sekelumit obrolan dua sahabat yang lama sudah tidak bertemu karena rentang jarak dan waktu yang memisahkan. Betapa seorang Faza begitu ragu untuk memulai satu tahap baru dalam kehidupannya. Dia masih begitu bimbang dihantui oleh ketakutan-ketakutan yang sebenarnya tak perlu ditakuti sama sekali.
Sepeninggal Faza, aku merenung sendiri sambil geleng-geleng kepala. Apanya yang susah untuk membuat sebuah komitmen pernikahan. Tinggal meluruskan niat untuk membuat sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Lalu berjuang untuk menjaganya dengan Iman dan Taqwa, dengan cinta dan kasih sayang, Dan merangkum semuanya dalam ke-tawakal-an total. Hanya itu yang bisa kita lakukan, karena setelah semua itu, Biarlah Alloh yang menunjukkan kebesaran dan belas kasihan-Nya. Jadi, kenapa harus takut membuat sebuah komitmen pernikahan.
Silahkan baca juga artikel terkait:







Comments