Metamorfosis kehidupan ini adalah sebuah kisah nyata tentang perubahan perjalanan seorang anak manusia yang dulunya berstatus preman. Kisah detilnya aku dapat dari kebiasaan mewancarai orang dengan gaya bak wartawan ulung sambil cangkruk-an waktu nunggu mamaku belanja di pasar induk.
Nama preman itu Slamet, singkat padat en teramat jelas maknanya. Dan memang seperti itulah kedua orang tuanya memberi nama. Slamet muda adalah seorang preman pasar yang cukup kesohor en sangat ditakuti seantero pasar induk di kecamatan tempatku tinggal.
Awal aku mengenalnya, Hhh.., dengan suasana yang sungguh tidak mengenakkan. Aku mengenalnya lewat kepalan tangan en kerasnya tendangan. Hehehe…, seru kan?
Yup, waktu itu aku sukses membuat preman itu babak bundas sebagai tindakan menuntut balas karena dia telah berani merampas tas mamaku en memukul adekku hingga wajahnya membiru.
Esok harinya, aku langsung cabut ke Bogor, karena memang aku punya rencana untuk melanjutkan kuliah di sana.
Satu semester berlalu begitu saja, sampe akhirnya aku kembali ke rumah tercinta karena liburan semester. Dan seperti biasanya, tugas mengantar mama tersayang belanja kembali padaku. Hehehe…, anak yg manis kan?
Dan untuk kali ke dua aku bertemu dengan preman yang namanya Slamet itu. Wow, wajah angker yang aku pasang kontan lenyap melihat preman itu tersenyum. Nggak terlalu manis tapi sepertinya tulus. Dengan sopan, preman itu meminta ijin membetulkan posisi motorku yang agak melintang en mengganggu motor lain yang hendak parkir.
Dari warung langgananku, ku lihat preman itu bekerja menjadi tukang parkir. Hhmm, tukang parkir tersopan yang pernah aku temukan.
“Slamet dah berubah,” jelas Lek Idi, pemilik warung melihat keherananku. “Dia berhenti jadi preman, sejak kamu hajar dulu, za,” sambungnya.
Aku cuma cengengesan mendengar penjelasan itu. Aku jadi teringat betapa bangganya waktu itu. Ternyata jurus-jurus karate yang aku latih dari SMP telah membuat aku jadi jagoan pasar. Hehehe…
“Kok bisa?”
“Ya, itu, awalnya dia cuma luntang-lantung di pasar ini, tapi ‘malak’ orang udah tidak lagi,”
“Ooo.., gitu ya,”
Kembali aku melihat kesibukan mantan preman yang tengah mengatur parkiran. Hebat, ternyata dia tidak cuma ngurus motor, tapi juga membantu bawaan orang-orang yang nitip motor padanya. Eit, tunggu dulu. Ternyata dia juga membantu membawa belanjaan orang-orang yang naik becak. Dan dia masih tersenyum waktu yang di bantu hanya mengucapkan, “Matur nuwun, Met!”
Ku lambaikan tangan memanggil waktu Slamet melihat ke arahku. Dan setengah berlari, dia memenuhi panggilanku.
“Ada apa, mas?” tanyanya.
Aku ketawa lirih, “Nggak ada apa-apa, duduk gih. Ngopi-ngopi dulu lah,” ajakku.
Dengan canggung mantan preman itu duduk di sebelahku. Dan kemudian jawaban dari rasa penasaranku tentang perubahannya yang begitu drastis aku peroleh.
“Keliatannya dah insyaf, neh?” pancingku mengawali pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
“Iya, mas, kapok. Ternyata dipukuli orang tuh sakit rasanya,” jawab Slamet malu-malu.
“Makanya, kalo kulit masih tipis, ga usah sok jadi jagoan,” ledekku.
Dia hanya heha-hehe mendengar sindiranku. “Iya, mas, maaf, waktu itu aku salah.”
“Lupain aja, Met. Aku juga minta maaf,”
Dan untuk pertama kalinya kita bersalaman dengan rasa persahabatan.
“Ok, tapi gimana ceritanya, kok kamu berubah kayak gini?” tanyaku sambil memesan sebungkus rokok trus aku tawarkan padanya.
“Lek Idi yang nyuruh jadi tukang parkir, kardus-kardus bekas aku minta dari tokeh achong,”
“Emang ada orang yang percaya nitipin motornya ke kamu?”
Mantan preman itu ketawa lagi, ”Seminggu pertama, ga ada, mas. Semua nya masih pada curiga. Mo bantuin bawa belanjaan, di sangka mo bawa kabur itu barang. Hehehe… berat mas,” ceritanya sambil nyeruput kopi di hadapannya.
“Selama itu, Lek Idi yang ngasih aku makan, Iya kan, Lek?,”sambungnya sambil memuji pemilik warung.
“Hehehe…, kamu juga bantu ndorong gerobakku ampe rumah, met,” balas Lek Idi yang sepertinya malu perbuatan baiknya diceritain ke orang lain.
“Lama-lama, ada orang juga yang percaya dan tiap hari makin banyak orang yang minta tolong ke aku,” lanjutnya dengan bangga.
Kemudian obrolan kita terputus. Mamaku dah selesai belanja dan kita harus segera pulang.
Seperti itulah, Slamet preman pasar dah berubah total. Dan ternyata, perubahannya itu membawa keberkahan buat dirinya.
Info dari mamaku, waktu dia nikah, orang-orang pasarlah yang sibuk menyiapkannya. Mereka patungan untuk membiayai segala kebutuhan pernikahan si Slamet mantan preman itu.
Ketulusannya begitu dihargai oleh orang-orang disekelilingnya. Tidak cuma pernikahannya aja yang dibiayai, khitanan anak pertamanya juga ditanggung rame-rame.
Sampe sekarang, Slamet masih tetap tukang parkir. Tukang parkir yang begitu menghayati perannya sebagai tukang parkir, sekaligus melihat peluang pahala dengan membantu orang tanpa meminta imbalan. Slamet sekarang masih seperti dulu, masih ramah, tidak marah bila orang yang dibantunya tidak memberi uang sepeserpun.
Slamet memang tetep miskin secara ekonomi, tapi dia sungguh kaya raya di dalam hatinya. Kehidupannya senantiasa berbahagia, karena dia sudah mampu menjalani hidup apa adanya dengan berbalut rasa syukur pada Sang Maha Kuasa.
Para sobat blogger, lihatlah, sebuah perubahan kecil yang tumbuh dari hati, dijalani dengan penuh ketulusan akan membuahkan perubahan yang begitu besar pada kehidupan ini.
Semoga cerita tentang Slamet yang mantan preman lalu ber metamorfosis menjadi tukang parkir dapat meng-inspirasi kita semua. Amieen…!







Comments