perigitua.com sett mode *puisi dan sajak* tentang Nikmat-Mu Tiada Terpungkiri
Dulu, sewaktu ada orang bertanya padaku,
Apa cita-citamu, Nak…?
Dengan lantang aku menjawab
“Aku pengen jadi dokter…”
Kadang-kadang juga pengen jadi insinyur
Namun rencana hanyalah impian indah manusia
Kuasa mutlak tetap berada di tangan-Nya
Kenyataannya…
Sekarang aku hanya jadi tukang sayur
Satu harga mati yang pernah sangat ingin aku pungkiri
Dalam sujudku, aku mengharu biru
Pertanyakan takdir yang Dia sematkan di hidup ini
Seiring lapangnya hatiku, aku terhenyak…
Kebahagiaan yang selama ini aku inginkan, sungguh tak dapat tersangkalkan lagi
Aku bahagia melihat senyum ibu-ibu yang berhasil menawar daganganku, walau hanya seratus-dua ratus perak
Aku bahagia menerima ucapan terima kasih nan tulus dari mereka semua
Dan aku lebih bahagia lagi, sesampainya di rumah, senyum manis istri dan celoteh bidadari kecil menyambutku
Secangkir kopi mengepul dan beberapa potong singkong goreng mengiring rasa syukurku
Lalu pijatan lembut permaisuri jiwa di bahu meyakinku pada kuasa dan keadilan Sang Maha Pemberi Nikmat
Truss… Nikmat yang mana lagi yang dapat aku pungkiri…???







Comments