Perigitua.com menyambut HUT Republik Indonesia
Sepenggal cerita lalu ini bukanlah penggalan cerita masa laluku, namun penggalan cerita lalu dari bangsaku, Indonesia Raya Tercinta. Dalam rangka menyambut HUT Republik Indinesia yang ke – 64 tahun, perigitua,com akan tampil dalam Edisi Khusus HUT Republik Indonesia. Edisi khusus ini, semoga dapat membantu teman-teman semua dalam memaknai kemerdekaan Republik Indonesia tercinta sekaligus menginspirasi kita untuk mengisi hari-hari selepas kemerdekaan negeri ini.
Sahabatku sayang,
Andai engkau memahami mau lebih mendalam lagi, negeri ini banyak menyimpan kisah yang begitu luar biasa. Jiwa-jiwa patrotik pernah begitu mewarnai negeri ini. Putra-putri bangsa yang menjiwai makna pengabdian dan pengorbanan. Jiwa-jiwa yang mengenal betul arti makna keikhlasan dan ketulusan. Sehingga jangankan harta, jiwa raga rela mereka korbankan demi satu tujuan MERDEKA.
Sahabatku sayang,
Andai engkau belum pernah mendengar penggalan kisah itu, engkau dapat tanyakan pada Ibu Pertiwi. Seorang ibu yang pernah demikian bangga nasibnya diperjuangkan oleh putra-putrinya. Seorang ibu yang telah menyaksikan begitu banyak darah tertumpah, air mata bercucuran, semangat dan tangis silih berganti membuat bangga Sang Pertiwi.
Sahabatku sayang,
Andai engkau tahu, Sang pertiwi telah menyimpan kisah-kisah itu dengan sangat rapi, tersusun dalam rak-rak sejarah negara ini. Dia menanti. Sang Pertiwi menunggu, keturunan putra-putri nya mau meluangkan sedikit waktu, sedikit saja untuk merenungi kembali penggalan cerita lalu itu.
Sahabatku sayang,
Andai engkau tahu, keinginan ibu pertiwi bukanlah sekedar keinginan untuk diingat, bukanlah sekedar keinginan untuk dinomor satukan. Keinginan Sang Pertiwi, sangatlah murni. Keinginan tulus dari seorang ibu yang tidak menginginkan perjuangan putra-putrinya tersia-siakan. Harapan suci seorang ibu yang berharap para penerus negeri ini melanjutkan apa yang telah putra-putrinya dulu perjuangkan.
Sahabatku sayang,
Andai engkau engkau bersedia membuka kembali penggalan cerita lalu itu, engkau akan terhenyak oleh satu kenyataan. Kemerdekaan negeri ini tidaklah gratis. Kemerdekaan negeri ini bukanlah sebuah pemberian Negara lain. Kemerdekaan ini lahir dari perjuangan panjang pendahulu-pendahulu kita.. Kemerdekaan Sang Pertiwi bukan lahir dari sikap main-main dan pemalas apalagi manja. Kemerdekaan ini lahir dari tekad membara dan perjuangan yang gegap gempita. Kemerdekaan ini lahir dari semangat yang mampu mengguncang langit dan menggetarkan bumi.
Sahabatku sayang,
Andai engkau telah memahami, masihkah engkau akan seperti ini? Pantaskah kita tetap terlena oleh hasil perjuangan para pahlawan bangsa? Pantaskah kita berpesta pora tanpa memaknai perjuangan mereka?
Sahabatku sayang,
Mari kita bergandeng tangan dan merapatkan barisan. Mari kita songsong hari esok yang penuh tantangan. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan semangat berbakti untuk negeri. Kita tak perlu mengangkat senjata, karena memang sudah bukan saatnya. Kita tak perlu berperang karena memang sudah bukan jamannya.
Sahabatku sayang,
Mari kita angkat pacul bila kita petani. Mari kita kayuh pedal bila kita tukang becak. Mari kita goreskan pena bila kita seorang penulis. Mari kita posting artikel bila kita seorang blogger. Mari kita isi kemerdekaan ini sesuai dengan posisi kita masing-masing. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan niat suci berbakti untuk negeri.
Sahabatku sayang,
Sang Pertiwi masih tetap mencatat apa yang kita perbuat. Sang pertiwi tetap akan menyimpannya dalam sejarah negeri ini. Kelak, dia juga akan bercerita pada anak cucu kita, bahwa kita juga telah berusaha. Bahwa kitapun juga telah berjuang meneruskan jejak para pendahulu kita. Percayalah, suatu hari nanti, Sang pertiwi akan bercerita bahwa kita pantas disandingkan dengan para pahlawan bangsa ini.
Silahkan baca artikel terkait:







Comments