Pagi itu, perigitua menghadap sang guru spiritual yang bernama mbah google.

“Berat mbah…,” keluh perigitua.

Mbah google hanya terkekeh sambil menyedot rokok kretek andalannya pagerank cigaretes. Tawanya masih terdengar saat nyeruput kopi panas bikinan murid kesayangannya yang bernama putri alexa.

“Kamu ini… Jadi laki-laki kok mlempem…,” tutur mbah google dengan santainya. Sepotong pisang goreng langsung amblas masuk ke dalam perut buncitnya.

Perigitua tengadah, nggak enak hati juga dicap sebagai laki-laki lemah, biarpun oleh sang guru sendiri.

“Saya tidak mlempem mbah. Saya kuat…,” sanggah perigitua berang.

“Hehehehe… lha terus… yang tadi itu apa le..?” tanya mbah google lagi. “Berat mbah… Omongan apa itu?”

Perigitua bungkam.

“Jadi laki-laki itu harus kuat. Tegar sekokoh batu karang,” lanjut mbah google lagi memberi wejangan.

“Saya kuat mbah,” sergah perigitua. “Saya tegar, setegar batu karang yang sanggup menahan gemburan ombak lautan.”

Mbah google manggut-manggut.

“Lalu masalahmu dimana le…?” tanya mbah google kali ini dengan lembut.

Perigitua merem melek menikmati elusan lembut mbah google di kepalanya.

“Saya tidak mau pasrah mbah. Saya tidak mau menjadi obyek.”

“Jadilah ombak le… yang selalu menghantam karang,” mbah google memberi saran.

Tampang perigitua seketika memelas. “Tapi saya nggak sanggup menjadi gelombang itu mbah. Terlalu dasyat dan saya nggak akan mampu sehebat itu.”

“Kamu pesimis le…?”

“Tidak mbah, saya hanya realistis,” jawab perigitua.

“Bagus bagus… mawas diri…,” gumam mbah google lirih. “Terus mau kamu bagaimana le…?”

Perigitua menghela nafas panjang.

“Ya itulah mbah… Saya nggak tahu harus bagaimana lagi…” tutur perigitua lemah. “Makanya saya kemari… mohon petunjuk mbah google…,” sambungnya lagi.

Mbah google manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya yang jarang-jarang.

“Kalo kamu nggak sanggup menjadi ombak di lautan, jadilah setitik air,” ucap mbah google.

Perigitua melengak.

“Setitik air mbah? Apa hebatnya?” tanya perigitua sambil cengengesan.

“Kamu ngetawain simbah le..?!” tanya mbah google mendelik. Tawa perigitua kontan surut.

“Mboten mbah… Mana berani saya ngetawain simbah, dikutuk jadi orang ngganteng bisa repot nanti,” ralat perigitua dengan panik.

“Saya cuma bingung saja mbah. Dari rencana menjadi ombak kok langsung berubah menjadi setitik air mbah. Kalo disuruh jadi segelas air masih mendingan, kan masih bisa buat membangunkan orang yang lagi ketiduran waktu rapat paripurna di sana,” sambung perigitua sambil menunjuk arah sekenanya.

Jadilah setitik air le… setitik air yang menetes terus menerus… setiap saat…,” tutur mbah google serius. “Teruslah menetes di satu titik… jangankan batu kali… karang di lautanpun niscaya akan berlubang suatu hari nanti.”

Perigitua terdiam, mencoba meresapi dan memahami wejangan mbah google.

“Minta ajimatnya mbah… biar jadi setitik airnya lebih mantap mbah…”

“Boleh… boleh… nih bawa pagerank cigaretes… Insya Alloh ini akan banyak membantumu…,” mbah google mengeluarkan pusaka pagerank cigaretes dari balik kolornya.

Perigitua menerima pusaka pagerank cigaretes itu dengan takzim. “Boleh tanya mbah…?”

Mbah google manggut-manggut nggak jelas, “Hhhhmmm…, boleh.. Apa yang hendak kau tanyakan le..?”

“Mbah google serius, saya di suruh menjadi setitik air? Apa nggak kelamaan mbah?” tanya perigitua penasaran.

Tiba-tiba mbah google mencak-mencak naik pitam.

“Kamu nggak percaya sama aku le…?” tanya mbah google dengan nada yang naik beberapa oktav. “Kamu mau mencoba merasakan kekuatan setitik air le..?”

Perigitua tergidik. Duduknya beringsut mundur.

“Sini kamu…!!! Aku ikat di sana,” ancam mbah google sambil menunjuk tiang yang berdiri tegak di tengah rumah.

Alexa…, ambilkan segentong air. Taruh di atas sana. Lalu bagian bawah gentong dilubangi, arahkan biar tepat di batok kepala bocah ini…”

Perigitua terperanjak sampai pucat. Tergopoh-gopoh dia berdiri dari duduk bersilanya.

“Ampun mbah… Ampun… Saya percaya… Terima kasih banyak mbah… Assalamu’alaikum…”

Tanpa menunggu jawaban dari mbah google, perigitua langsung kabur, lari tunggang langgang diiringi tawa merdu putri alexa yang terpingkal-pingkal.

*Para sahabatku sayang… Selamat berlomba menangkap benang merahnya ya… Semoga bermanfaat…!*

Keep the fight for better life

cu…

perigitua, Januari ’10

faza

Silahkan baca juga artikel terkait: