Jam dinding berdetak teratur, baru pukul 8.30 malam.

Aku masih ngelamun di depan komputer. Anganku berlarian menuruni tebing-tebing sketsa cerita yang memenuhi otakku. Ku coba pungut, ku rangkai ide-ide yang berserak itu. Aih, susah sekali kali ini. Semua mentah. Tak ada satu benang merah pun yang dapat ku tautkan, agar cerita tak cuma sekedar uraian kata, agar tersirat makna yang akan memperkaya jiwa.

Aku mengeluh. Ya, Alloh, kenapa ini?

Tiba-tiba, sesosok bayang muncul dari layar monitor LCD ku. Dari kecil, lama-lama membesar.

Aku terpaku. Ketakutan menyerang diriku. Ingin ku lari, namun kaki ini rasanya lumpuh. Ingin ku teriak, namun tak sepatah katapun dapat terucap. Ingin aku pingsan saja, namun kesadaran tiada kunjung meninggalkan diri ini.

“Jangan takut, cucuku,” tutur sosok yang telah sempurna menjelma menjadi kakek yang telah renta.

Dan memang tidak ada yang menakutkan dari sosok kakek itu. Matanya bening dan bercahaya, bibirnya tersenyum penuh cinta.

“Sssiiapa…. kamu?,” tanyaku tergagap. Sumpah, baru sekarang aku merasa setakut ini.

“Aku hamba Alloh, sama sepertimu. Jadi tak perlu kau takut padaku,” jelas kakek itu masih dengan bibir mengulas senyum.

Mendengar penjelasannya, ada sebersit keberanian hadir kembali.

Aku mulai beringsut mendekatinya, “Ada apa, kek, ada yang bisa saya bantu?”

Dia tertawa lirih,”Tidak cucuku. Aku tidak membutuhkan apapun darimu, tapi aku punya tugas untukmu,”

Tiba-tiba saja, di tangan sang kakek itu ada kertas putih yang diangsurkan padaku.

“Cucuku, terimalah…” perintahnya lembut. Aku menerima dengan hati penuh tanda tanya.

“Ada 3 lembar kertas untukmu,” tuturnya lagi.

Dan setelah aku periksa, memang ada 3 lembar kertas putih seukuran A4.

“Sekarang tugasmu adalah kau gambar dirimu sesuai dengan keinginanmu,” lanjut kakek itu sambil menyerahkan 2 buah pensil, warna hitam dan putih, dan sebuah penghapus pensil.

Aku termenung sejenak, mencoba mengartikan maksud dari perintah itu. “Maksud kakek?”

Kakek itu tertawa panjang, tapi sama sekali tidak menakutkan, “Tak perlu ku jelaskan lagi. Kamu pasti tau maksudku.”

Kemudian perlahan-perlahan sosok itu mulai memudar, “Ingat, gambarlah dirimu sesuai dengan keinginan hatimu. Kamu punya waktu selama 3 hari. Setiap hari aku akan datang padamu, meminta satu lembar gambar dirimu.”

Aku masih tertegun, menatap bolak-balik antara kertas di tanganku dan monitor di hadapanku. Aku menarik nafas panjang dengan mata memejam, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.

Masalah sosok itu sudah tidak aku persoalkan lagi, tapi tugasnya ini lho, yang bikin bingung. Menggambar diri sesuai keinginan hati? Apa maksudnya? Aih, sungguh teka-teki yang membingungkan. Apa mungkin aku harus menggambar cita-citaku? Ya, mungkin saja.

Dengan mantap, aku ambil pensil warna hitam, dan ajaib. Aku menggambar dengan begitu indahnya, ada sedikit noda dari kesalahan tarikan tanganku. Sudah ku hapus biarpun meninggalkan sedikit noda namun tak akan begitu mengganggu.

Di situ, aku nampak begitu tampan, dengan jubah putih khas seorang dokter. Di belakangku tampak sebuah bangunan rumah sakit yang besar dan megah, dimana banyak orang-orang berbaju kumal yang mengantri sampe ke pintu gerbang rumah sakitku.

Ya, aku menggambarkan keinginanku tuk jadi seorang dokter yang memiliki rumah sakit sendiri. Rumah sakit ini aku peruntukkan buat orang-orang miskin yang tidak memiliki biaya untuk berobat di rumah sakit lain.

Hhmmm.., aku cukup puas melihat hasil karyaku itu. Sempurna! Karena itu memang keinginan terbesarku saat melihat berita di tv, ada orang miskin yang kesulitan berobat karena terbentur biaya.

Tak perlu menunggu lama, sosok renta itu muncul kembali. Masih dengan senyum lembutnya, masih dengan tatapan bening nan bersinar itu, dia bertanya, “Bagaimana cucuku, sudah selesaikah?”

Aku tersenyum, dengan bangga ku serahkan kertas yang telah ada gambar diriku. “Ini, kek, bagaimana?”

Kakek itu menerima lukisan ku itu. Dia mengamati dengan seksama sambil manggut-manggut memegangi janggutnya yang sudah memutih semua.

“Keinginan yang luhur, cita-cita yang mulia,” pujinya sambil menepuk-nepuk pundakku. “Tapi aku tau, kamu bisa lebih dari ini, cucuku…” sambung kakek itu yang otomatis menyurutkan senyum penuh kemenanganku.

“Maksud, kakek…?” tanyaku tak mengerti.

“Masih ada dua lembar lagi, manfaatkanlah baik-baik, cucuku. Besok aku akan datang mengambil lukisan yang kedua mu.”

Sama seperti kemaren, perlahan-lahan sosoknya lenyap dan kembali masuk ke dalam monitor komputerku.

Whats…!, Bagaimana mungkin membantu fakir miskin berobat gratis bukan keinginan yang termulia bagiku? Tanya kembali mendera kalbuku. Hati dan pikiranku bekerja keras untuk menemukan sesuatu yang lebih baik dari impianku yang pertama.

Oh, ya, tiba-tiba aku punya ide brillian. Segera ku hamparkan selembar kertas di meja komputerku. Ku ambil pensil hitam, ku tarik garis lurus dengan penuh keyakinan, ku tarik lengkungan dengan penuh semangat. Mungkin gambar ini yang dimaksud sang kakek misterius itu.

Hhh…, aku menarik nafas lega. Akhirnya selesai sudah lukisan ini.

Pada gambar itu, nampak aku memakai helm proyek, tak jauh dari situ telah berdiri sebuah masjid yang megah. Banyak orang-orang yang nampak menuju ke masjid ku itu. Tak jauh dari sana, aku mendirikan beberapa rumah makan dengan papan nama bertuliskan “Rumah Makan Ikhlas – Gratis khusus untuk fakir miskin”

Ya, aku menggambar diriku sebagai kontraktor, yang membangun sebuah masjid dan beberapa rumah makan di sekitarnya yang bagi para kaum dhuafa boleh menikmati makanannya secara gratis. Mudah-mudahan ini yang dimaksud kakek itu, do’aku dalam hati.

Tak lama berselang, seperti sebelumnya, sang kakek hadir kembali. Ku serahkan hasil lukisanku dan dia manggut-manggut. Senyum lelaki tua itu makin lebar.

“Keinginan yang luar biasa cucuku,”pujinya kembali seperti saat memeriksa lukisanku yang terdahulu. “Tapi aku percaya, kamu bisa lebih dari ini”

Aku bungkam, otakku bekerja keras mencoba mencari apa yang sebenernya dimaksud oleh kakek misterius ini.

“Besok adalah kesempatan terakhirmu, manfaatkanlah sebaik mungkin. Tanya pada lubuk hatimu,” ujar kakek itu sebelum menghilang.

Aku termenung. Baru sekarang aku merasa tak mengerti apa yang harus aku lakukan.

“Tanya pada hatimu… tanya pada hatimu…,” terngiang suara kakek itu mengingatkan.

Ku tarik napas panjang, dan aku tenggelam dalam keheningan. Ku coba menemui hatiku, berdiskusi dan memohon petunjuk untuk memecahkan teka-teki ini.

Seharian aku hanya menatapi kertas putih di hadapanku. Pensil hitam memang aku pegang, namun tak jua aku dapat menggoreskan.

Hingga akhirnya kakek itu muncul dan meminta selembar kertas terakhir itu.

Aku serahkan kertas kosong itu. Aku biarkan kertas itu tetap putih seperti sedia kala.

Kakek itu menatapku lama dan tajam. Kalbu ini begitu tergetar, tak mampu aku melawan tatapan yang begitu luar biasa itu.

“Kenapa kosong?” tanyanya penuh teguran.

Dengan tertunduk aku menjawab, “Maaf, kek, aku tak dapat menemukan sesuatu yang lebih baik dari kertas putih itu. Aku dilahirkan seputih kertas itu, kek, dan aku mau kembali dalam keadaan seperti itu.”

Tiba-tiba terdengar gelak tawa sang kakek. “Hahaha…, cucuku yang baik, akhirnya kau mengerti juga.”

Aku mengangkat wajahku, memberanikan diri tuk menatap sosok di hadapanku itu. Aku biarkan saja, dua tangannya memegang bahuku.

“Tapi kamu baru memahami setengahnya, cucuku,” ujar kakek itu.

“Maksud kakek?”

“Bukan untuk itu kertas diciptakan. Kertas diciptakan untuk ditulisi, di corat-coret, dan bukan untuk dibiarkan tetap putih seperti ini,” jelasnya lagi.

Aku masih diam menyimak setiap kata-kata kakek itu.

“Kamu sudah mengerti?”

Aku menggeleng pelan.

“Sudahlah, pada saatnya nanti engkau juga akan mengerti cucuku.” Sang kakek sudah melepaskan tangannya dari bahuku.

“Aku berikan selembar kertas ini untukmu, dan juga ini…,” dia meletakkan sebuah pensil putih di atas kertas yang terhampar di meja komputerku.

“Belajarlah baik-baik, cucuku. Pahami dengan kecerdasan hatimu…”

Sesaat kemudian sang kakek menghilang, meninggalkan aku yang termenung menatapi kertas dan pensil putih itu. Tiba-tiba sebuah kesadaran timbul. Ya, aku mengerti semuanya.

KakekKakek…,” teriakku memanggil-manggil sang kakek. “ Aku mengerti sekarang….!!!”

Kriiiiinggg….Kriiiiinggg….Kriiiiinggg….

“Astaghfirulloh…,” teriakku saat kesadaran kembali merengkuhku. Bunyi jam weker telah merenggutku dari mimpi. Ya, sebuah mimpi yang sangat luar biasa…..