Aku baru saja masuk ke dalam rumah ketika aku melihat seorang bocah cilik celingak celinguk di depan pintu gerbang. Dari jendela rumah yang tertutup kelambu, ku awasi tingkah lakunya.
Satu-dua langkah bocah itu terayun memasuki halaman. Mata beningnya menyambar liar manyapu seluruh pekarangan rumahku.
“Geblek! Kecil-kecil sudah mau jadi maling nih bocah,” rutukku dalam hati. Tanganku sudah gemas pengen menjitak kepala itu bocah.
Tanpa ku duga, langkah bocah itu terayun ke pintu di mana bel rumah berada.
Teettt……… Tettt……… Tett………….!
Aku membiarkan saja, hanya tetap mengawasi dari balik kelambu. Istriku yang bergegas ingin membukakan pintu juga aku tahan.
“Ssstt…, jangan dibuka, biarkan saja dulu…” kataku pada Inno.
“Kenapa, Mas? Ada tamu kok malah ngumpet?” tanya istriku itu penasaran.
“Ssttt…, liat aja sendiri…,”
Inno turut mengitip dari balik kelambu. Dia juga terheran-heran ada seorang bocah laki-laki dengan baju kumal sedang berdiri dengan gelisah menanti tuan rumah membukakan pintu.
“Bukain aja mas…?”
“Jangan! Kita liat dulu dia maunya apa. Biasanya maling akan pura-pura bertamu sambil melihat situasi dulu,” cegahku beragumen. Istriku pun mengangguk penasaran.
Bocah dekil itu pun masih tetep memencet bel tanpa lelah. Dan yang mencurigakan, sepasang matanya tidak pernah lepas memandang ke sudut pekarangan.
Seingatku, Di sana tidak ada barang berharga, karena sepedanya Afra sudah aku masukkan ke dalam garasi.
Akhirnya bocah itupun menyerah, dengan sikap penuh kekecewaan, dia berjalan menuju keluar pekarangan rumahku.
Aku segera membuka pintu rumah dan memanggilnya. Tiba-tiba saja aku merasa bocah itu tidak mungkin seorang maling.
“Dik…,”panggilku.
Dia menoleh dan tersenyum sumringah. Bergegas dia menuju ke arahku.
“Sore Pak, maaf mengganggu,” ujarnya sopan sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
“Ada apa dik?” tanyaku sambil mengulurkan tangan. Dan dia menciumnya dengan takzim.
“Maaf pak, saya lihat di pojok sana ada tumpukan bata sisa. Apakah masih terpakai pak?,” tanya bocah itu sopan.
“Ooo… itu, nggak dik, emang ada apa?” aku jadi teringat tumpukan bata sisa membuat kolam di teras rumah.
“Boleh buat saya pak?” pintanya lagi. Sepasang mata yang ternyata begitu bening itu menatapku penuh harap.
Aku tergagap. “Eee…, boleh.. boleh…, emangnya untuk apa dik?”
Dia tersenyum, “Saya membutuhkannya pak.”
“Silahkan ambil saja semuanya. Sudah tidak pakai lagi,”
Bocah itu semakin sumringah, “Terima kasih pak…., saya ambil gerobak dulu. Permisi…”
Aku cuma mengangguk sambil melihat dia berjalan keluar pagar. Dan benar. Sesaat kemudian ku lihat dia menarik sebuah gerobak dengan susah payah.
Ku lihat tangan kiri bocah itu cacat, karena hanya tangan kanannya saja yang menarik gerobak dengan sebuah tali gerobak yang mengalung di pundaknya. Sedang tangan kirinya terjuntai begitu saja.
Aku hanya mengawasi bocah itu dari kursi di teras. Aku melihat tangan kanan bocah itu bergerak cepat memindahkan bata-bata ke dalam gerobaknya. Tak lama kemudian, Inno keluar dengan membawa segelas es sirup yang aku minta untuk bocah itu.
“Dik, minum dulu…,” teriak Inno lembut.
“Makasih bu, saya puasa…,” jawab bocah itu sambil mengangguk ke arah istriku itu.
Mendengar jawaban itu aku dan Inno saling pandang tidak percaya. Bocah 10 tahun itu berpuasa????
Inno memberi isyarat padaku dan aku mengerti. Tanpa diminta pun aku pasti akan melakukannya.
“Sini, biar saya bantuin,” kataku sambil memasukkan beberapa bata sekaligus.
“Nggak usah pak,” tolaknya.
“Udah, sebentar lagi maghrib,” tuturku tetap membantunya.
Tepat bedug maghrib selesai sudah. Semua bata-bata itu sudah terkumpul di dalam gerobak.
“Hayoo… buka puasa dulu.” tawarku sembari menarik tangan kecilnya.
“Siapa namamu dik?” tanya istriku tanpa dapat menutupi kekagumannya bocah yang kini tengah duduk di hadapannya.
“Udin bu…,” jawabnya singkat.
Dan kemudian obrolan singkat sambil berbuka puasa. Ternyata bocah itu juga membawa baju dan sarung untuk sholat waktu aku dan Inno kebingungan karena tidak punya cadangan baju untuk bocah itu sholat maghrib.
Suatu Sore di Posko Penggalangan Dana Bencana Gempa
“Gimana, sudah siap semua?” tanyaku pada teman-teman.
“Sudah boss, Baju bekas, matras dan selimut sudah di kemas,” Arman segera memberi laporan.
“Obat-obatan juga sudah siap,” Anita turut memberikan laporan.
“Uang Cash juga siap,” Rudi juga memberi laporan.
“Sipp…, berarti malam ini kita siap ke TeKaPe. Semoga apa yang kita lakukan ini dapat meringankan penderitaan mereka,” ucapku yang lansung di-amin-in sahabat-sahabatku itu.
“Assalamu’alaikum….,” tiba-tiba terdengar suara salam.
“Wa’alaikumsalam…,” jawa kami kompakan.
Anita langsung bergegas keluar menyambut tamu.
Dari dalam terdengar suara Anita yang bercakap-cakap dengan sang tamu yang dari suaranya sepertinya masih kanak-kanak.
“Mas Faza… kesini bentarrr…, “ Sayup ku dengar Anita memanggilku.
“Ada apa, Nit…?,” tanyaku menggantung ketika melihat bocah yang duduk di hadapannya.
“Udin…? Kok di sini?” tanyaku heran melihat tamu itu ternyata Udin, bocah yang tempo hari datang ke rumah.
“Lho… bapak? Kok di sini?”
“Iya Din, kita di sini sedang mengumpulkan dana untuk korban gempa tempo hari. Kami sendiri ada apakah?”
“Saya juga mau menyumbang Pak,” tuturnya bangga.
“Oh, ya…???”
“Iya pak. Saya tahu di sana pasti banyak anak-anak seusia udin yang kehilangan rumah mereka pak, makanya Udin mau nyumbang batu bata buat mendirikan rumah mereka yang baru,” jelasnya sambil menunjuk gerobak yang sudah ada di halaman posko. Gerobak itu penuh dengan batu-bata yang tertumpuk rapi.
Aku membelalakkan mata tak percaya, sedang Anita sudah mengangis menahan keharuan.
“Kenapa Pak?” tanya udin heran. “Bapak tidak terima sumbangan batu bata ya?”
Refleks aku memeluk bocah itu. Lama aku tidak berucap apa-apa. Aku hanya ingin memeluk bocah yang luar biasa ini.
“Kenapa pak?” tanya bocah itu kebingungan.
“Terima kasih… Terima kasih banyak, Din…, Insya Alloh dengan sumbanganmu ini, anak-anak itu akan segera mempunyai rumah yang baru,” tuturku terbata sambil menghapus dua titik air mata yang sempat menetes karena haru.
“Jadi… Sumbangan udin di terima pak?” tanya udin tidak percaya.
“Mari kita bongkar sumbanganmu ini Din,” ajakku sambil mengelus kepala bocah itu penuh sayang.
Arman dan Rudi yang sudah keluar pun segera membantu menurunkan batu bata dari gerobak si Udin dengan mata berkaca-kaca setelah mendapat penjelasan singkat dari Anita. Kami berembat serabutan berlomba menurunkan sumbangan paling luar biasa yang pernah kami terima selama membuka posko penggalangan dana ini. Ya, sumbangan terhebat dari seorang Udin, Si Bocah Langit!
Perigitua, September ’09
Silahkan baca juga artikel terkait:







Comments